Tips Bertahan dan Berkembang Sebagai Anak Rantau

  • 08 Jan 2026 14:03 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Merantau untuk menempuh pendidikan di luar daerah bukanlah perkara mudah. Hal tersebut dirasakan Yosefin, mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang kini menjalani kehidupan akademik di Yogyakarta. Dalam perbincangan bersama Pro 2 RRI Samarinda, Yosefin berbagi pengalaman, tantangan, hingga tips bertahan dan berkembang sebagai anak rantau.

Menurut Yosefin, keputusannya merantau sudah direncanakan sejak duduk di bangku SMA. Ia menyadari bahwa setiap pilihan besar membutuhkan pengorbanan, termasuk meninggalkan keluarga dan lingkungan yang telah membesarkannya. “Yang paling dikangenin pasti keluarga, teman-teman SMP, teman gereja, dan orang-orang terdekat di Samarinda,” ujarnya, seperti dikutip dari laman youtube RRI Samarinda, Kamis (8/1/2026).

Meski demikian, Yosefin mengaku tidak terlalu merindukan suasana kota Samarinda. Ia justru merasa lebih cocok dengan atmosfer Yogyakarta yang dinamis sebagai kota pelajar, dengan banyak pilihan ruang belajar, wisata, dan eksplorasi diri.

“Di Jogja aku lebih banyak menemukan hal baru. Dari SMA sampai kuliah, aku jadi sering eksplor alam dan tempat-tempat baru,” katanya.

Dirinya juga menceritakan pengalaman culture shock yang ia alami, terutama terkait penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keterbatasan dalam berbahasa Jawa halus kerap membuatnya memilih menggunakan bahasa Indonesia, yang terkadang berdampak pada perbedaan perlakuan di lingkungan tradisional seperti pasar.

“Kalau pakai bahasa Indonesia, kadang ketahuan bukan orang lokal. Katanya harga bisa jadi lebih mahal,” ucapnya sambil tertawa.

Dalam menghadapi kehidupan sebagai perantau, Yosefin menekankan pentingnya manajemen waktu. Pada awal masa sekolah di Yogyakarta, ia mengaku sempat larut dalam kebebasan dan menghabiskan banyak waktu untuk bersantai. Namun, seiring waktu, ia mulai menyadari tujuan utama perantauannya.

“Aku mulai ingat lagi tujuan ke Jogja itu untuk sekolah dan mengejar kampus impian. Dari situ aku belajar bikin jadwal dan lebih disiplin,” ujarnya.

Ia memanfaatkan agenda digital seperti Google Calendar untuk mengatur kegiatan harian, mulai dari jadwal belajar hingga aktivitas pribadi. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut sangat membantu menjaga konsistensi.

Dalam hal belajar, Yosefin mengakui pernah menerapkan sistem belajar kebut semalam atau SKS. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya menyadari pentingnya belajar secara bertahap dan aktif menyimak materi di kelas. “Kalau sudah dengar di kelas, walaupun sedikit, nanti pas belajar ulang jadi lebih nyambung,” katanya.

Yosefin menyampaikan pesan bagi generasi muda yang akan merantau untuk melanjutkan pendidikan. Ia menekankan pentingnya keteguhan tujuan, kesabaran, dan konsistensi dalam proses.

“Merantau itu pasti berat. Banyak yang ditinggalkan. Tapi kalau tetap konsisten dan fokus pada tujuan, semua usaha itu akan terbayar,” katanya, berpesan.

Ia berharap pengalaman dan ceritanya dapat menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya calon mahasiswa, untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman demi meraih masa depan yang lebih baik.

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....