Menjaga Napas Laut dari Pesisir Muara Badak
- 02 Jun 2026 17:08 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Kutai Kartanegara - Di bawah permukaan laut Kalimantan Timur, kehidupan terus tumbuh di antara hamparan terumbu karang yang menjadi rumah bagi beragam biota laut. Namun, ekosistem yang rapuh itu menghadapi berbagai ancaman, mulai dari aktivitas manusia hingga perubahan lingkungan.
Di momentum peringatan Hari Terumbu Karang Sedunia setiap 1 Juni, upaya menjaga kehidupan bawah laut kembali menjadi sorotan. Salah satunya dilakukan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) bersama anak perusahaan dan afiliasinya melalui berbagai program konservasi yang melibatkan masyarakat pesisir.
Bagi warga Desa Tanjung Limau di Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara, menjaga laut bukan lagi sekadar aktivitas sukarela. Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan tersebut telah berkembang menjadi gerakan bersama yang tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
Melalui program Jaga Pesisir Kita yang dijalankan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), masyarakat dilibatkan dalam rehabilitasi terumbu karang, perlindungan mangrove, pengawasan kawasan pesisir, hingga pengembangan wisata berbasis lingkungan.
Program yang berjalan sejak 2019 itu lahir dari kebutuhan untuk memulihkan kawasan laut yang sebelumnya terdampak praktik penangkapan ikan yang merusak.
Muhammad Mansur, salah satu tokoh masyarakat yang terlibat dalam program tersebut, mengatakan proses pendampingan selama bertahun-tahun telah membuat warga semakin mandiri dalam menjaga lingkungan mereka.
"Keberlanjutan lingkungan di wilayah pesisir memerlukan kepemimpinan lokal yang kuat, kolaborasi yang inklusif, serta komitmen yang tidak pernah surut untuk menjaga masa depan laut kita," ujarnya.
Menurut Mansur, komunitas pesisir kini juga mulai memanfaatkan pendekatan digital dan edukasi berbasis alam untuk mengenalkan pentingnya pelestarian laut kepada generasi muda. Harapannya, kesadaran menjaga ekosistem pesisir dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di sisi lain, upaya konservasi yang dilakukan PHI juga hadir dalam bentuk yang tak biasa. Struktur anjungan migas yang telah habis masa operasinya ternyata dapat memperoleh "kehidupan kedua" sebagai habitat baru bagi biota laut.
Melalui program Rig to Reef yang dijalankan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) di kawasan Karang Segajah, Bontang, instalasi migas lepas pantai yang sudah tidak digunakan dialihfungsikan menjadi terumbu buatan.
Metode ini memungkinkan struktur bawah laut tetap berada di perairan dan menjadi tempat berkembangnya berbagai jenis ikan, karang, serta organisme laut lainnya.
Manager Environment PHI, Kemas Adrian, mengatakan program tersebut menunjukkan bahwa kegiatan industri dan konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan melalui inovasi dan kolaborasi yang tepat.
"Program ini menjadi bukti bahwa kegiatan industri dapat berjalan selaras dengan upaya konservasi lingkungan melalui inovasi dan kolaborasi yang berkelanjutan," katanya.
Selain memberikan manfaat ekologis, metode Rig to Reef juga dinilai lebih efisien karena mengurangi kebutuhan pembongkaran total dan pengelolaan struktur yang sudah tidak lagi digunakan.
Bagi PHI, konservasi tidak hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat agar menjadi pelaku utama dalam perlindungan sumber daya pesisir dan laut.
"Melalui berbagai inisiatif seperti Jaga Pesisir Kita dan Rig to Reef, kami tidak hanya berfokus pada perlindungan ekosistem, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat agar mereka dapat menjadi pelaku utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut," ujar Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi ekosistem pesisir, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha menjadi harapan untuk memastikan terumbu karang tetap tumbuh, ikan tetap berkembang biak, dan laut Kalimantan Timur tetap lestari bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....