Bumbu Pecel, Dorong Kuliner Tradisional Tetap Diminati Generasi Muda
- 02 Sep 2026 16:08 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Tren kuliner dari luar negeri yang semakin populer di kalangan generasi muda menjadi tantangan tersendiri bagi keberadaan makanan tradisional. Kondisi tersebut justru dilihat Pinkan Nazhwa Izza Tsabira, Owner Bumbu Pecel Tsabira, sebagai peluang bagi pelaku usaha untuk menghadirkan inovasi tanpa meninggalkan produk lokal.
Pinkan menilai, makanan tradisional saat ini menghadapi persaingan dengan berbagai jenis kuliner modern yang semakin mudah ditemui. “Kalau pendapat saya pribadi, banyak kaum Gen Z lebih cenderung mengkonsumsi makanan modern, seperti Korean food, sushi dan gimbab,” kata Pinkan saat menjadi narasumber teras umkm pro 4, dikutip 2 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai ancaman bagi makanan tradisional. “Ketika masuknya makanan dari luar justru dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk mencari pembeda dan juga mempertahankan produk dalam negeri,” ujarnya.
Pinkan mencontohkan bumbu pecel sebagai salah satu makanan yang masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Meski bukan merupakan makanan khas Kalimantan, bumbu pecel telah dikenal luas oleh masyarakat di daerah tersebut.
Ia menilai, perubahan pola pikir generasi muda juga diperlukan agar makanan tradisional tidak kalah bersaing dengan kuliner modern. “Makanya inovasi memang menjadi salah satu langkah yang dilakukan, agar masyarakat tertarik dengan apa yang kita jual,” kata Pinkan.
Sebelumnya, Bumbu Pecel Tsabira telah memiliki ciri khas berupa tambahan kacang mede pada racikan bumbu. Ke depan, Pinkan juga melihat peluang menghadirkan variasi baru dengan tetap mempertahankan karakter utama bumbu pecel.
Bagi Pinkan, menjaga makanan tradisional juga berkaitan dengan pilihan konsumsi masyarakat. “Makanan tradisional itu jauh lebih sehat karena kita tahu bagaimana prosesnya, gizinya juga, takarannya sesuai,” katanya.
Dari sisi harga, Bumbu Pecel Tsabira dipasarkan dalam kemasan 200 gram dengan harga sekitar Rp25 ribu. Menurut Pinkan, satu kemasan dapat digunakan untuk sekitar empat porsi, bahkan bisa mencapai tujuh hingga delapan porsi tergantung tingkat kekentalan bumbu yang diinginkan konsumen.
Pinkan juga tengah mengurus sertifikasi halal untuk produknya. Ia menyebut proses tersebut mendapat dukungan dari pemerintah desa setempat melalui bantuan dalam pengurusan sertifikasi.
Ke depan, Pinkan berharap Bumbu Pecel Tsabira dapat berkembang lebih luas. “Harapannya semoga bumbu pecel Sabira ini bisa lebih meluas lagi, bukan hanya di Desa Lawadori Ulu atau khususnya Kukar, tetapi di Samarinda, Kalimantan sekitarnya, bahkan kalau bisa satu Indonesia,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....