Konsistensi Rasa Jadi Kunci Usaha Sambal Pecel Bu Suci
- 17 Agt 2026 15:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Membangun sebuah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sering kali diawali dari desakan ekonomi serta keberanian untuk mengambil langkah demi menopang kesejahteraan keluarga. Hal itulah yang dialami oleh Suci Rahayu, pemilik usaha olahan kuliner tradisional "Sambal Pecel Bu Suci" di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Suci menceritakan, dorongan utama dirinya terjun ke dunia kewirausahaan berawal dari niat tulus membantu perekonomian rumah tangga yang serba terbatas. Sebelum memfokuskan diri pada racikan sambal pecel, ia telah mencoba berbagai peruntungan usaha makanan sejak tahun 2021.
"Awalnya saya berusaha sambal pecel itu memang kebutuhan dan untuk membantu keluarga karena kebutuhan yang ada pun kita kurang. Jadi, saya membantu dan akhirnya menjadi suatu harapan supaya lebih bisa menjadi kehidupan kita," ujarnya dalam program UMKM Bicara di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Senin, 17 Agustus 2026.
Beragam produk usaha telah dicobanya, mulai dari menjual makanan ringan, gorengan, bihun, keripik pisang, hingga jamu tradisional. Namun, pada tahun 2024, Suci memutuskan untuk menjadikan produk sambal pecel sebagai prioritas utama usahanya. Pilihan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan pertimbangan praktis operasional dan daya tahan produk kuliner tersebut.
Menurut Suci, dibandingkan makanan basah atau olahan harian lainnya yang wajib habis terjual dalam satu hari agar tidak basi, sambal pecel memiliki keunggulan berupa daya simpan yang relatif lebih lama. Hal ini memberikan keleluasaan dalam mengelola persediaan tanpa kekhawatiran tinggi akan timbulnya kerugian akibat produk yang membusuk atau terbuang.
Perkembangan usaha Sambal Pecel Bu Suci juga tidak lepas dari dukungan modal sosial di lingkungan sekitarnya. Pengenalan rasa awal dimulai dari respons positif anggota keluarga dan kerabat dekat yang menyukai bumbu olahannya. Dorongan dari tetangga serta rekan-rekan di organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Dasa Wisma, dan kelompok Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) menjadi katalis utama penyebaran promosi secara langsung maupun dari mulut ke mulut.
Dalam menjalankan bisnis kulinernya, Suci menegaskan, tantangan utama UMKM seperti fluktuasi penjualan dan rasa lelah fisik harus dihadapi dengan komitmen menjaga kualitas.
"Saya pokoknya komitmen, apabila saya sudah sekali dikenal orang, saya komitmen harus seperti itu dari awal. Jadi, tidak akan saya rubah walaupun sedikit, tidak saya rubah. Tetap saya komitmen tentang bumbu ataupun apapun dari awal saya memulai seperti itu juga selanjutnya," katanya.
Ia memegang teguh standar rasa bumbu tanpa pernah mengurangi takaran atau mengubah resep asli demi mempertahankan kepercayaan pelanggan yang telah dibangun sejak awal. Kini, dengan dibantu oleh menantu dan anaknya dalam proses produksi, Suci terus menjalankan rutinitas hariannya secara disiplin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....