Risolloka, Bukti Ide Sederhana Bisa Jadi Peluang Usaha

  • 13 Jun 2026 20:31 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Semangat berwirausaha di kalangan generasi muda terus berkembang seiring munculnya berbagai inovasi kuliner lokal. Salah satunya ditunjukkan oleh Muthia Khaida, pemilik usaha Risolloka, yang menghadirkan risol dengan berbagai varian rasa untuk menjawab selera pasar modern. “Risolloka merupakan usaha kuliner yang bergerak di bidang makanan ringan, khususnya menjual produk risol dengan berbagai varian rasa yang inovatif,” ujarnya.

Usaha yang berbasis di Samarinda Seberang itu berawal dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diikuti saat masih menjadi mahasiswa. “Program tersebut mendorong saya memilih kegiatan kewirausahaan dan mulai menggali potensi yang bisa dikembangkan menjadi usaha,” kata Muthia saat menjadi narasumber Teras UMKM Pro 4 Samarinda, dikutip Sabtu, 13 Juni 2026..

Kegemarannya memasak menjadi modal awal untuk terjun ke dunia kuliner. “Karena saya senang memasak, saya mencoba masuk ke bidang food and beverage dan melihat makanan ringan memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara lebih inovatif,” ucapnya.

Nama Risolloka sendiri memiliki makna yang unik dan mencerminkan konsep usaha yang dibangun. “Risolloka berasal dari dua kata, yaitu risol dan loka yang berarti dunia atau tempat, sehingga bisa diartikan sebagai dunianya risol atau tempatnya risol,” ujarnya.

Ia mengaku memilih risol karena makanan tersebut sudah akrab di tengah masyarakat dan memiliki pangsa pasar yang luas. “Saya melihat risol memiliki peluang besar karena hampir semua orang mengenalnya, tetapi saya ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda melalui inovasi rasa dan kualitas produk,” katanya.

Pada awal usaha, produksi masih dilakukan secara sederhana di dapur rumah dengan jumlah terbatas. “Produk pertama yang saya buat adalah risol beef mayo signature dengan racikan khas Risolloka, lalu saya mengembangkan kategori rasa gurih dan manis,” ucapnya.

Respon positif dari keluarga menjadi penyemangat untuk terus mengembangkan usaha tersebut. “Saat pertama kali dicoba keluarga, mereka memberikan dukungan dan masukan agar tampilan produk lebih rapi sehingga semakin layak dipasarkan,” ujarnya.

Menurut Muthia, memulai usaha tidak selalu membutuhkan modal besar seperti yang banyak dibayangkan orang. “Karena dilakukan di rumah dan menggunakan peralatan yang sudah ada, modal awal saya cukup sederhana dan bahan baku dibeli sesuai kebutuhan produksi,” katanya.

Tantangan terbesar yang dihadapi pada masa awal usaha adalah membangun kepercayaan pelanggan di tengah banyaknya produk serupa di pasaran. “Saya harus meyakinkan konsumen bahwa risol yang saya buat memiliki ciri khas tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan favorit mereka,” ujarnya.

Muthia menilai konsep ‘jajanan pasar naik kelas’ bukan berarti menghilangkan identitas makanan tradisional, melainkan meningkatkan kualitasnya. “Esensinya adalah memperbaiki kualitas produk, tampilan, dan inovasi tanpa meninggalkan karakter asli jajanan tersebut sehingga tetap relevan dengan kebutuhan pasar saat ini,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....