Tak Sekadar Jualan, Dapur Gibran Jadi Simbol Perjuangan Keluarga
- 20 Apr 2026 04:41 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Di balik lezatnya seporsi pempek dan mochi yang menggoda, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang ibu rumah tangga yang merintis usaha dari nol. Sosok itu adalah Sofia, pemilik usaha kuliner Dapur Gibran yang kini dikenal luas oleh pelanggan, bahkan hingga luar daerah.
Sofia menjelaskan nama Dapur Gibran diambil dari nama anak pertamanya sebagai sumber semangat dalam membangun usaha. “Dapur Gibran itu sebenarnya nama anak pertama saya. Jadi biar simpel dan mudah diingat orang,” ujarnya saat menjadi narasumber Program Teras UMKM Pro 4.
Berlokasi di kawasan Pojok Kuliner L2 Tenggarong Seberang, Dapur Gibran menawarkan beragam olahan, mulai dari pempek, tekwan, hingga mochi dengan berbagai varian rasa. Seluruh produk dibuat sendiri secara homemade.
Perjalanan usaha ini tidaklah mudah. Sofia mengaku sempat mengalami kesulitan ekonomi akibat tertipu arisan online. Kondisi tersebut justru menjadi titik balik untuk memulai usaha.
“Sempat ada masalah ekonomi karena ketipu arisan online. Dari situ saya mikir usaha apa yang bisa menghasilkan,” ucapnya.
Berbekal kemampuan dasar membuat pempek secara otodidak, Sofia kemudian memperdalam ilmunya melalui kursus, usaha Dapur Gibran pun mulai dirintis sejak tahun 2021. “Awalnya benar-benar dari nol, bingung mulai dari mana. Tapi alhamdulillah sekarang sudah berjalan hampir lima tahun,” katanya.
Demi menjaga kualitas, Sofia sangat memperhatikan proses produksi. Ia memilih langsung bahan baku ikan tenggiri segar dari pasar, lalu mengolahnya sendiri hingga menjadi adonan.
Ia juga membagikan salah satu kunci agar pempek tetap lembut, yakni menjaga suhu adonan tetap dingin sebelum diolah. Selain itu, konsistensi rasa dijaga dengan takaran bahan yang tidak berubah.
Selain pempek, Dapur Gibran juga mengembangkan produk mochi yang kini menjadi favorit pelanggan. Varian seperti durian, stroberi, hingga cokelat menjadi primadona.
Namun, perjalanan usaha tak lepas dari tantangan, mulai dari keterbatasan modal, promosi yang sulit, hingga penurunan daya beli masyarakat pasca pandemi. “Yang paling berat itu modal dan promosi di awal. Apalagi waktu COVID, jualan benar-benar sepi,” ucapnya.
Meski begitu, Sofia tetap bertahan dan terus beradaptasi. Ia bahkan menganggap kritik dari pelanggan sebagai bagian penting untuk berkembang.
Ke depan, Sofia berharap usahanya tetap konsisten dan terus diminati pelanggan. Ia juga memberi pesan kepada masyarakat, khususnya pasangan muda, agar berani memulai usaha.
“Jangan takut mulai usaha. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Jalani saja dulu, nanti akan kelihatan hasilnya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....