Sambal Bawang Dayak Aqueena, Produk Kaltim yang Tembus Pasar Nasional

  • 18 Apr 2026 17:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Di antara deretan stand yang memamerkan berbagai potensi daerah di Kaltim Fair 2026, booth Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur menjadi salah satu yang ramai disambangi pengunjung. Di sana, ada UMKM Aqueena yang menghadirkan produk khas berupa sambal bawang dayak dengan beragam varian.

Pemilik UMKM Aqueena, Wiwit Andriyanti, mengatakan usahanya kini telah memasuki tahun keempat dalam memproduksi sambal dan olahan ikan.

“Alhamdulillah sudah masuk tahun keempat kami produksi sambal ini,” ujarnya kepada rri.co.id, dikutip pada Sabtu, 18 April 2026.

Aqueena sendiri memiliki 12 varian sambal bawang dayak. Namun, enam varian yang paling diminati adalah sambal original, ikan haruan, tuna, baby cumi, cakalang, dan ikan layang. Produk tersebut kerap dipamerkan dalam berbagai event, termasuk Kaltim Fair sebagai bagian dari upaya memperluas pasar sekaligus memperkenalkan olahan khas daerah kepada masyarakat.

Meski demikian, ia mengakui perjalanan usahanya tidak lepas dari tantangan, terutama kenaikan harga bahan baku dalam beberapa waktu terakhir. Harga ikan, cabai, minyak, hingga gula disebut mengalami lonjakan signifikan, yang berdampak langsung pada biaya produksi.

“Semua naik, dari bahan baku sampai kemasan, termasuk plastik untuk sealer juga ikut naik,” kata Wiwit.

Wiwit mengaku, kenaikan harga menjadi dilema karena di satu sisi biaya produksi meningkat, namun di sisi lain konsumen juga terdampak. Kondisi ini pun membuat dirinya harus berhati-hati dalam menentukan harga jual agar tidak menurunkan daya beli konsumen.

Terlebih, di tengah kondisi tersebut, Aqueena tetap berupaya berinovasi dengan menghadirkan produk baru. Salah satunya adalah abon ikan bawang dayak.

"Adi ada beberapa customer dari luar daerah itu meminta kami membikin abon ikan itu dengan menggunakan bawang dayak," ujar Wiwit.

Untuk bahan baku bawang dayak, ia mengaku kini tidak lagi bergantung pada pasokan luar karena sudah membudidayakan sendiri. Namun, masalahnya ada pada cabai untuk sambal yang sempat melonjak hingga Rp120.000 per kilogram.

“Untungnya sebelum puasa kami sudah stok ratusan kilo, tapi sekarang stok itu sudah habis. Sekarang juga harga cabai ini masih di angka Rp55 ribu di semua pemasok,” kata Wiwit.

Pemilik UMKM Aqueena, Wiwit Andriyanti. (Foto: RRI Samarinda/Chella)

Meski demikian, ia tak pantang menyerah. Terbukti, empat tahun berjalan menekuni bidang ini dengan segala tantangannya berhasil membawa produk Aqueena tembus ke pasar nasional.

Pada April 2026, Wiwit menyebut, produknya akan mulai masuk ke Banjarmasin dan Sulawesi Barat. Sedangkan, untuk wilayah Jawa, sambal bawang Dayak Aqueena sudah dipasarkan di Mall Sarinah Jakarta dan Hamzah Batik Yogyakarta.

"Di Jakarta dan Yogyakarta kami sudah jalan 3 tahun," ucapnya.

Sementara di market lokal, produk Aqueena juga telah tersebar di berbagai pusat perbelanjaan dan toko oleh-oleh. Beberapa di antaranya seperti Hypermart, Era Mart, Mulawarman, Planet, hingga Era Fresh, dengan total sekitar 15 toko.

Selain itu, produk milik Wiwit ini juga tersedia di Tenggarong, Anggana, Bontang, hingga Balikpapan, termasuk di bandara.

Meski membuka penjualan langsung di rumah produksinya, Wiwit tetap mendorong konsumen berbelanja melalui mitra. “Harga di tempat kami sama dengan di supermarket, jadi kami ingin tetap menghidupkan mitra,” ujarnya.

Adapun sambal bawang dayak Aqueena dibanderong dengan harga Rp35 ribu per kemasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....