Perjalanan Pempek Urang Hulu dari Tenggarong
- 02 Feb 2026 05:04 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Di tengah maraknya produk pempek dari berbagai daerah, sebuah UMKM asal Tenggarong memilih bertahan dengan identitas lokal. Pempek Urang Hulu, usaha olahan pempek berbahan ikan sungai, tumbuh dari dapur rumahan hingga menjadi salah satu produk frozen food yang kini dikenal luas di Kutai Kartanegara.
Usaha ini dirintis sejak 2018 oleh Nur Apni, yang mengaku telah mencoba berbagai jenis usaha sebelum akhirnya memantapkan pilihan pada pempek. “Usaha apa saja sudah saya jalani, mulai dari jualan baju sampai sembako. Tapi yang benar-benar berjalan sampai sekarang hanya empek-empek,” ujarnya.
Nama Pempek Urang Hulu sendiri memiliki cerita tersendiri. Awalnya, usaha ini menggunakan nama Dapur Embo. Namun saat mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB), Nur Apni mendapat saran untuk menggunakan nama yang lebih unik dan mudah diingat.
“Waktu pengurusan NIB, ada mentor yang bilang, kalau namanya nyeleneh biasanya cepat diingat. Akhirnya dipilihlah nama Pempek Urang Hulu, karena kata ‘hulu’ itu menggambarkan dari akar sampai pucuk,” kata Nur Apni.
Berbasis produksi di Mangkurawang, Tenggarong, Pempek Urang Hulu memulai usaha dengan sistem pre-order dan pemasaran dari mulut ke mulut. Tantangan utama datang dari persepsi pasar yang masih melekatkan pempek dengan daerah tertentu.
“Kalau kami nawarin, sering dijawab, ‘sudah biasa beli pempek Bontang’. Jadi tantangannya bagaimana meyakinkan bahwa pempek ikan sungai juga enak dan bisa diterima,” ujarnya.
| Baca juga: Berawal dari Engineer, Sukses Usaha Roti |
Menurut Nur Apni, pempek olahannya menggunakan ikan sungai seperti belida dan betutu, yang memberi cita rasa berbeda dan lebih sesuai dengan lidah masyarakat Kutai. “Rasanya memang beda, tapi justru itu yang khas. Yang mencoba rata-rata bilang rasanya masuk,” katanya.
Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan usaha ini. M. Nerry Aspiannur, yang turut mendampingi, berperan besar dalam pengurusan legalitas usaha. Mulai dari NIB, sertifikat halal, hingga izin BPOM diurus secara bertahap.
“Awalnya kami pikir ribet, tapi ternyata banyak manfaatnya. Setelah NIB, bisa lanjut ke halal dan BPOM. Alhamdulillah semua dipermudah,” ujar Nerry.
Legalitas tersebut menjadi titik balik bagi Pempek Urang Hulu untuk memperluas pasar. Saat ini, produk dijual dalam bentuk frozen food dengan berbagai varian, seperti lenjer, kapal selam, keju, hingga varian khas Kumpai yang dicampur bawang tiwai. Cuko yang digunakan pun menjadi pembeda karena memakai gula aren asli dan asam jawa.
“Kami pakai gula aren asli dan asam jawa, bukan cuka, jadi lebih aman di lambung,” jelas Nur Apni.
Meski masih diproduksi secara mandiri di dapur rumah, Pempek Urang Hulu terus menjaga konsistensi rasa dan kualitas. “Resep dari awal tidak pernah kami ubah. Semua ditimbang, jadi takarannya tetap sama,” tambahnya.
Pempek Urang Hulu menjadi gambaran bagaimana UMKM lokal mampu bertahan dengan mengandalkan identitas daerah, konsistensi rasa, serta kemauan untuk beradaptasi dengan standar usaha modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....