Wamenkeu Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Global

  • 05 Agt 2026 15:18 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung optimistis perekonomian Indonesia mampu mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang 2026 meski masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global. Optimisme tersebut didukung oleh aktivitas ekonomi yang tetap kuat serta kondisi fiskal yang dinilai sehat, kredibel, dan dikelola secara hati-hati.

Dalam wawancara, Juda Agung mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 diperkirakan masih berada di atas lima persen. Meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, berbagai indikator menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif. "PMI sudah menunjukkan ekspansi, sementara impor barang modal dan bahan baku meningkat. Hal itu menandakan aktivitas produksi dan investasi terus tumbuh," ujarnya dikutip Rabu 5 Agustus 2026 di laman resmi Kementerian Keuangan RI.

Pemerintah pun meyakini target pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 5,6 hingga 6,0 persen masih dapat dicapai. Berbagai stimulus yang diberikan pada semester II, termasuk untuk sektor manufaktur dan otomotif, diharapkan mampu memperkuat konsumsi, investasi, dan aktivitas produksi sehingga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Juda juga menepis anggapan bahwa deflasi pada Juli 2026 mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat. Menurutnya, penurunan inflasi lebih dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas, seperti bawang merah dan emas. "Kalau dilihat datanya, deflasi lebih banyak disebabkan penurunan harga pangan, khususnya bawang merah, serta harga emas. Ini tidak mengindikasikan permintaan masyarakat melemah, apalagi PMI justru meningkat," katanya.

Dari sisi fiskal, Juda menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada pada jalur yang sehat. Penerimaan negara tercatat meningkat sekitar 24 persen, sementara belanja negara tumbuh sekitar 17 persen. Hingga akhir semester I 2026, defisit APBN tercatat hanya 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). "Defisit kita sampai bulan Juni masih 0,76 persen. Itu sangat terjaga dan menunjukkan fiskal Indonesia dikelola secara prudent," katanya.

Menurut Juda, disiplin pengelolaan fiskal tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga kepercayaan investor terhadap Indonesia. Stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas lima persen, serta terjaganya peringkat kredit Indonesia menjadi indikator bahwa perekonomian nasional masih memiliki fondasi yang kuat. "Kita mampu tumbuh tinggi tanpa mengorbankan stabilitas. Inflasi terjaga, fiskal tetap sehat, dan ekonomi tetap bertumbuh di atas lima persen. Inilah yang menjadi dasar kepercayaan investor terhadap Indonesia," ujarnya.

Menjelang penyampaian Nota Keuangan dan Rancangan APBN Tahun Anggaran 2027, pemerintah memastikan APBN akan tetap menjadi instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal tahun depan dirancang tetap ekspansif untuk mendukung pembangunan dan penciptaan lapangan kerja, namun tetap dijalankan secara terukur agar kesinambungan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga. "Intinya, pada 2027 kita tetap ekspansi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan terukur," kata Juda Agung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....