Sandima Samarinda Tumbuh dari Akulturasi Budaya

  • 07 Okt 2026 06:51 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Sandiwara Mamanda atau Sandima yang berkembang di Kota Samarinda tidak lahir begitu saja. Kesenian ini merupakan hasil perjalanan panjang dan akulturasi budaya yang mempertemukan tradisi Mamanda dengan lingkungan sosial dan budaya masyarakat Kalimantan Timur.

Penulis Buku Sandima dan Kajian Ilmiah Sandima untuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), Abdillah Syafei, menjelaskan untuk memahami Sandima perlu melihat terlebih dahulu sejarah Mamanda yang menjadi akar kesenian tersebut.

Menurutnya, Mamanda berawal dari masuknya pertunjukan Komedi Indra Bangsawan dari Tanah Malaka ke Kesultanan Banjar sekitar 1897. Pertunjukan yang dibawa oleh rombongan budayawan tersebut kemudian berkembang di Kalimantan Selatan dan mendapat pengaruh nilai-nilai Islam melalui cerita serta syair.

“Kalau kita bicara Sandima, kita harus bicara dulu asal-usulnya Mamanda,” kata Abdillah, dikutip Selasa 6 Oktober 2026.

Seiring perpindahan dan menetapnya masyarakat Banjar di Kalimantan Timur, kesenian Mamanda turut dibawa ke wilayah Samarinda. Namun, ketika bertemu dengan budaya lokal, bahasa, serta perkembangan seni di daerah setempat, pertunjukan tersebut kemudian mengalami perubahan.

Abdillah menyebut, sekitar tahun 1950-an hingga 1960-an mulai muncul varian baru yang tidak lagi sepenuhnya mempertahankan pakem Mamanda. Kesenian tersebut mulai mengadopsi berbagai unsur seni, termasuk seni modern, dan kemudian dikenal sebagai Sandiwara Mamanda atau Sandima.

“Sebagai sebuah karya budaya, budaya itu akan beradaptasi dengan lingkungannya, dengan budaya setempat, bahasa, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Perkembangan Sandima kemudian berlanjut melalui sejumlah kelompok seni di Samarinda. Salah satu kelompok yang cukup lama mempertahankan eksistensi Sandima adalah Forum Aktualisasi Seni Tradisional atau Format yang mulai berkembang sekitar 1993.

Menurut Abdillah, keberadaan kelompok seni yang memiliki pekerjaan tetap serta jaringan dengan berbagai pihak turut membantu keberlangsungan Sandima. Dukungan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, instansi, hingga media juga ikut membuka ruang bagi pertunjukan Sandima.

Ia juga menilai RRI memiliki peran dalam memperkenalkan Sandima kepada masyarakat, tidak hanya melalui siaran radio, tetapi juga dengan menghadirkan pertunjukan secara langsung di lingkungan RRI Samarinda.

Abdillah berharap perkembangan Sandima tetap mempertahankan nilai edukasi yang menjadi dasar seni pertunjukan tersebut. “Yang kita harapkan dari Sandima di era sekarang, Sandima juga beradaptasi dengan teknologi, nilai-nilai edukasi itu saja yang perlu kita pertahankan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....