Menjaga Alam Kaltim Melalui Falsafah Memayu Hayuning Bawana

  • 30 Sep 2026 19:11 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penerapan falsafah Jawa Memayu Hayuning Bawana dinilai menjadi momentum krusial untuk memperkuat kesadaran masyarakat Kalimantan Timur dalam menjaga kelestarian lingkungan. Urgensi penanaman nilai ekologis ini mengemuka di tengah ancaman kabut asap dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini berdampak pada penurunan kualitas udara di wilayah Samarinda dan sekitarnya.

Penegasan tersebut disampaikan dalam diskusi kebudayaan interaktif "Pantas Jawa" yang disiarkan secara langsung melalui kanal radio Pro 4 RRI Samarinda, dikutip Rabu 30 September 2026. Siaran ini menyoroti relevansi ajaran luhur Nusantara terhadap respons bencana lingkungan akibat aktivitas pembalakan liar dan pembakaran lahan yang tidak terkendali.

Praktisi kebudayaan Jawa, Mbah Sapar, menegaskan prinsip dasar Memayu Hayuning Bawana menuntut tanggung jawab aktif manusia untuk memperindah dan merawat alam, bukan sebaliknya merusaknya demi kepentingan sesaat.

"Kita semua wajib menjaga kelestarian alam supaya alam ini tetap terjaga, termasuk tidak diperbolehkan menebang pohon seenaknya," ujar Mbah Sapar dalam siaran radio tersebut.

Ia menambahkan, maraknya polusi udara dan bencana ekologis belakangan ini terjadi akibat pembiaran terhadap eksploitasi alam yang berlebihan. Oleh karena itu, gerakan penanaman pohon kembali serta perlindungan sumber air harus digalakkan di tingkat komunitas.

"Apalagi situasi cuaca saat ini rentan memicu kebakaran hutan yang menimbulkan polusi udara. Kita harus saling menjaga sesama manusia dengan cara menjaga hutan agar tidak gundul, serta menanam kembali pohon-pohon yang rusak," kata Mbah Sapar menjelaskan.

Selain itu Mbah Sapar juga mengaitkan pesan kelestarian tersebut dengan sejarah panjang tradisi Jawa yang telah diwariskan sejak era Kerajaan Mataram Islam dan media dakwah para wali.

"Konsep ini ternyata sudah mengakar sejak zaman Mataram Islam dan berkembang melalui pendekatan kultural tokoh seperti Sunan Kalijaga untuk mengajarkan keseimbangan antara manusia, pencipta, dan alam," ujarnya menambahkan.

Melalui dialog kebudayaan ini, masyarakat diimbau untuk tidak melihat tradisi sekadar sebagai ajaran moral lama, melainkan sebagai fondasi etika lingkungan hidup yang wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari demi mencegah bencana ekologis yang lebih luas di Benua Etam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....