Malam Bainai Suku Minang: Simbol Transisi Keluar dari Masa Lajang

  • 30 Sep 2026 19:10 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Praktik ritual adat Malam Bainai suku Minangkabau kini tidak lagi hanya dipahami oleh warga keturunan Sumatera Barat, melainkan mulai menarik perhatian masyarakat dari beragam latar belakang suku bangsa di tanah perantauan.

Antusiasme lintas budaya itu mengemuka dalam siaran kebudayaan Pesona Antar Komunitas Minang (Pantas Minang) di Pro 4 RRI Samarinda, pada Sabtu 8 Agustus 2026. Dalam dialog interaktif tersebut, pendengar dari luar suku Minang seperti dari Bugis hingga Kutai turut berpartisipasi dan mendiskusikan kemiripan ritual pernikahan daerah mereka dengan tradisi Malam Bainai.

Narasumber Pantas Minang, Uda Men, menyampaikan bahwa keterbukaan informasi dan ruang dialog kebudayaan di media broadcast menjadi sarana efektif untuk mengenalkan makna terdalam tradisi Minangkabau kepada masyarakat luas tanpa sekat suku bangsa.

"Malam Bainai ini bukan sekadar prosesi menempelkan daun inai di jemari calon pengantin, melainkan momen sakral pengungkapan kasih sayang dan wejangan terakhir orang tua sebelum anaknya mengarungi bahtera rumah tangga," ujar Uda Men.

Dalam kesempatan yang sama, Uni Eli menjelaskan keunikan tata cara tradisi ini, salah satunya aturan pemakaian inai yang secara khusus hanya dipasangkan pada sembilan jari tangan calon pengantin wanita.

"Penempelan inai sengaja dibatasi hanya sembilan jari karena angka sembilan melambangkan batas kemampuan manusia, sedangkan kesempurnaan sepuluh jari hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa," ujar Uni Eli menjelaskan filosofi ritual tersebut.

Respons hangat datang dari pendengar asal Bone, Icha, yang mengaku rutin menyimak program kebudayaan ini meski berasal dari suku Bugis. Ia bahkan membandingkan kebiasaan Malam Bainai dengan tradisi pernikahan di daerah asalnya.

"Di daerah kami Suku Bugis juga ada tradisi serupa bernama Mapaci. Meskipun beda bahasa dan daerah, inti penghormatan serta doa untuk calon pengantinnya terasa sangat mirip," ujarnya saat berinteraksi lewat saluran telepon.

Melalui perpaduan antara keindahan visual, doa, dan aturan moral, Malam Bainai tetap menjadi salah satu warisan tradisi Minangkabau yang terus dipertahankan keutuhannya hingga saat ini

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....