OIKN Kembangkan Motif Batik IKN dengan Cerita Nusantara

  • 15 Sep 2026 11:04 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Otorita IKN mendorong pengrajin batik di sekitar Nusantara membangun kekuatan usaha melalui keterampilan, kolaborasi, dan keberanian menghadapi persaingan pasar. Penguatan tersebut dinilai penting agar perajin lokal tidak hanya menjadi penonton ketika produk batik dari berbagai daerah masuk ke kawasan IKN.

Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, mengatakan persaingan dengan sentra batik seperti Pekalongan dan Solo tidak perlu dihadapi dengan kekhawatiran. Menurutnya, yang harus diperkuat adalah kemampuan perajin sendiri agar memiliki identitas dan ketahanan usaha.

Ia mengingatkan perajin agar tidak menyalahkan produk dari daerah lain ketika nantinya persaingan semakin terbuka. Justru kondisi tersebut harus menjadi dorongan untuk memperkuat kualitas dan karakter batik yang dikembangkan di sekitar Nusantara.

“Kalau kita tidak menyiapkan diri dari sekarang, jangan pernah nanti menyalahkan ketika kita diserbu batik Pekalongan, batik Solo. Karena ketahanan kita sendiri lemah,” kata Alimuddin dalam Pelatihan Pengembangan Teknik Membatik di Multifunction Hall Kemenko 1, KIPP IKN, Selasa, 15 September 2026.

Menurut Alimuddin, identitas tersebut tidak cukup dibangun melalui motif semata. Perajin juga perlu mengembangkan kemampuan, ketelitian, kreativitas, serta jaringan antarpelaku usaha agar mampu tumbuh bersama.

Karena itu, ia meminta peserta tidak sekadar mengikuti materi teknis selama pelatihan. Pengetahuan dari instruktur harus diserap, kemudian dikembangkan melalui kreativitas dan hubungan kerja sama antarpengrajin.

“Serap ilmu dari para instruktur, asah ketelitian dan kreativitas serta bangun jaringan antarsesama pengrajin,” ujarnya.

Kolaborasi, menurut Alimuddin, menjadi salah satu kunci yang perlu dibangun sejak sekarang. Perajin dapat bekerja bersama untuk memperkuat kemampuan produksi dan pemasaran sebelum masing-masing mengembangkan usaha secara lebih mandiri.

Ia bahkan menggambarkan para perajin sebagai bagian dari “benteng ekonomi” di luar kawasan inti Nusantara. Keberadaan mereka dinilai penting agar pertumbuhan IKN juga memberikan ruang bagi masyarakat di wilayah sekitarnya.

Alimuddin juga meminta perajin memiliki keberanian membawa produknya keluar dari lingkungan sendiri. Batik tidak cukup berhenti sebagai pakaian seragam atau produk untuk kebutuhan terbatas, tetapi harus mulai diperkenalkan kepada konsumen yang lebih luas.

Menurutnya, perkembangan pemasaran digital membuka peluang tersebut. Produk yang memiliki keunikan dapat memperoleh perhatian pasar melalui kanal digital, sehingga perajin perlu memiliki kesiapan untuk memperkenalkan produknya secara lebih terbuka.

“Sudah saatnya kita ada keberanian untuk me-launching produk kita ke halaman yang lebih luas lagi. Tidak sekadar di tempat kita, tidak sekadar menjadi pakaian seragam,” katanya.

Pendekatan itu membuat pelatihan batik tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. OIKN bersama Bank Indonesia menyiapkan keberlanjutan melalui penguatan manajemen usaha, pemasaran digital, dan kemampuan membawa produk ke pasar.

Alimuddin mengatakan penguatan kapasitas tersebut membutuhkan proses panjang. Perajin perlu terus belajar dan membangun kepercayaan diri agar kemampuan yang diperoleh dari pelatihan dapat menjadi keterampilan usaha yang bertahan dalam jangka panjang.

Ia berharap proses tersebut melahirkan kelompok perajin yang mampu saling menopang, bukan berjalan sendiri-sendiri. Dengan jaringan yang kuat, setiap pelaku usaha dapat berkembang tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Bagi OIKN, kesiapan masyarakat menjadi bagian penting dari pembangunan Nusantara. Pertumbuhan kawasan ibu kota baru diharapkan tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari tumbuhnya kemampuan ekonomi masyarakat yang berada di sekitarnya.

Karena itu, batik ditempatkan sebagai salah satu ruang untuk membangun keterampilan sekaligus ketahanan ekonomi masyarakat. Perajin tidak hanya dipersiapkan untuk menghasilkan kain, tetapi juga untuk menghadapi perubahan pasar dan mengambil peluang yang muncul seiring berkembangnya Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....