OIKN Dorong Industri Kain Tumbuh di Sekitar Nusantara

  • 15 Sep 2026 11:05 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) mendorong tumbuhnya rantai usaha kain di sekitar Nusantara untuk menekan biaya produksi dan memperkuat daya saing batik lokal. Langkah ini dinilai penting agar pengembangan batik tidak berhenti pada motif, tetapi membangun ekosistem usaha dari bahan baku hingga pasar.

Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, mengatakan pengembangan batik di Nusantara perlu diikuti tumbuhnya usaha pendukung. Salah satu yang dinilai penting adalah ketersediaan kain sebagai bahan dasar produksi.

Menurut Alimuddin, tanpa rantai usaha yang mendukung, pengrajin berpotensi menghadapi persoalan harga ketika batik lokal dibandingkan dengan produk dari sentra batik yang sudah berkembang.

“Jangan sampai batik kita sejajar dengan batik yang Pekalongan misalkan, Jogja, Solo. Tetapi ternyata kita jauh lebih mahal harganya,” kata Alimuddin kepada rri.co.id, di Gedung Kemenko 1, Selasa 15 September 2026.

Ia menjelaskan, sentra batik di Pulau Jawa memiliki keunggulan karena ekosistem produksinya telah terbentuk. Kondisi tersebut membuat bahan pendukung lebih mudah diperoleh dan biaya produksi dapat ditekan.

Karena itu, OIKN melihat peluang bagi pihak swasta untuk membangun rantai usaha kain di sekitar kawasan Nusantara. Kehadiran usaha pendukung tersebut diharapkan membuat pengrajin memperoleh bahan dengan kualitas baik dan harga yang lebih kompetitif.

“Bagaimana kalau ini maju, ada rantai usaha nanti yang akan tumbuh oleh pihak ketiga, private sector yang akan mensupport produksi-produksi ini sehingga kualitasnya bagus, harganya juga tidak terlalu mahal,” ujarnya.

Alimuddin menilai persoalan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun industri batik Nusantara. Produk yang memiliki motif kuat dan identitas lokal tetap harus mampu bersaing dari sisi harga apabila ingin masuk ke pasar yang lebih luas.

Pengembangan rantai usaha juga berkaitan dengan target OIKN menjadikan masyarakat lokal sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi kawasan. Sebelumnya, OIKN bersama Bank Indonesia telah menjalankan berbagai program untuk meningkatkan kapasitas UMKM, akses pembiayaan dan akses pasar di Nusantara.

Dalam pengembangan ekonomi kawasan, OIKN juga telah mendorong UMKM agar terintegrasi ke dalam rantai pasok. Pendekatan tersebut menempatkan pelaku usaha lokal bukan hanya sebagai penerima pelatihan, tetapi sebagai bagian dari aktivitas ekonomi yang berkembang di Nusantara.

Khusus sektor wastra, penguatan kapasitas masyarakat telah dilakukan secara bertahap. Pada Juni 2026, OIKN dan Bank Indonesia melibatkan sembilan kelompok batik dan wastra dengan total 50 peserta dalam pengembangan motif, termasuk 30 pembatik yang mendapatkan pendampingan desain.

Namun, Alimuddin menilai peningkatan kualitas produk harus berjalan bersama dengan penguatan ekosistem produksinya. Artinya, pengrajin tidak cukup hanya mampu menghasilkan batik berkualitas jika bahan baku dan kebutuhan produksi lainnya masih mahal atau sulit diperoleh.

Menurutnya, rantai usaha tersebut dapat membuka peluang baru bagi sektor swasta sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi tambahan di sekitar Nusantara. Semakin banyak kebutuhan produksi yang dapat dipenuhi dari kawasan sekitar, semakin besar pula potensi nilai ekonomi yang berputar di wilayah tersebut.

Alimuddin juga menilai pengembangan batik harus tetap mempertahankan karakter lokal tanpa terjebak pada motif yang hanya mengulang bentuk-bentuk tradisional. Identitas lokal dapat dikembangkan melalui desain yang lebih baru sesuai karakter Nusantara.

Dengan begitu, pengembangan batik di IKN tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan suvenir. Produk tersebut diharapkan berkembang menjadi bagian dari industri kreatif yang memiliki pasar, rantai produksi dan pelaku usaha yang saling terhubung.

Pengalaman OIKN menunjukkan produk batik dari kawasan Sepaku telah memiliki pasar seiring meningkatnya aktivitas di IKN. Batik Nusantara di Desa Argo Mulyo, misalnya, dilaporkan mampu memproduksi sekitar 70 lembar kain per bulan dan produknya dibeli pegawai maupun pengunjung kawasan IKN.

Alimuddin berharap, peluang tersebut dapat berkembang menjadi ekosistem yang lebih besar. Tidak hanya pembatik, tetapi juga pelaku usaha yang memasok bahan, mendukung produksi, mengembangkan desain hingga membantu pemasaran.

Dengan terbentuknya rantai usaha tersebut, batik Nusantara diharapkan memiliki dua kekuatan sekaligus, yakni identitas budaya yang kuat dan struktur biaya yang mampu mendukung persaingan di pasar nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....