OIKN Ingin Batik IKN Tak Sekadar Unik, Harus Laku di Pasar

  • 15 Sep 2026 11:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Otorita IKN mendorong batik karya perajin lokal tidak berhenti sebagai produk berciri khas daerah, tetapi mampu diterima pasar dan menghasilkan nilai ekonomi. Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan desain, peningkatan kualitas, hingga penguatan kesiapan produk sebelum dipasarkan lebih luas.

Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, mengatakan keberadaan motif khas IKN harus diikuti kemampuan membaca kebutuhan konsumen. Menurutnya, perajin tidak cukup hanya menghasilkan produk yang dianggap bagus dari sudut pandang pembuatnya.

“Pakem tetap harus ada, tetapi kita ini produsen. Konsumennya siapa? Konsumen yang kita sediakan, bukan kita,” kata Alimuddin dalam kegiatan Pelatihan Pengembangan Teknik Membatik di Multifunction Hall Kemenko 1, KIPP IKN, Selasa, 15 September 2026.

Ia menilai pemahaman terhadap pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan wastra di Nusantara. Produk batik perlu memiliki identitas, tetapi pada saat yang sama harus mampu menjawab selera dan kebutuhan konsumen.

Karena itu, proses pengembangan batik tidak berhenti pada pembuatan motif. Perajin juga diarahkan memahami bagaimana sebuah desain dapat diterjemahkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan layak ditawarkan kepada pasar.

Pelatihan yang berlangsung 15–17 September 2026 tersebut menjadi kelanjutan dari pendampingan pengembangan motif yang sebelumnya dilakukan OIKN bersama Bank Indonesia. Pada Juni 2026, kegiatan serupa melibatkan sembilan kelompok dengan total 50 peserta, termasuk 30 perajin batik.

Dalam pelatihan terbaru, desain yang telah dikembangkan diarahkan menjadi karya batik melalui tahapan membatik menggunakan canting, pewarnaan, hingga pelorodan. Alimuddin mengatakan proses tersebut diharapkan menghasilkan produk dengan standar yang dapat diperkenalkan ke pasar nasional hingga internasional.

Menurut dia, OIKN bersama BI juga perlu melihat kembali kesiapan produk sebelum didorong ke pasar yang lebih luas. Artinya, produk tidak hanya dibuat untuk kebutuhan internal seperti seragam, tetapi harus memiliki keberanian untuk diluncurkan sebagai produk komersial.

“Jangan hanya berhenti di seragam. Kita harus berani meluncurkan produk ini ke pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Dorongan tersebut sejalan dengan pengalaman pengembangan UMKM di kawasan Nusantara. OIKN sebelumnya menyebut pelaku usaha lokal perlu diperkuat dari sisi kapasitas, akses pasar, hingga pembiayaan agar mampu menangkap peluang ekonomi yang muncul seiring perkembangan IKN.

Pasar batik di kawasan IKN sendiri sebenarnya mulai terbentuk. Salah satu perajin Batik Nusantara di Desa Argo Mulyo, Sepaku, misalnya, tercatat mampu memproduksi sekitar 70 lembar kain per bulan dengan harga mulai Rp360 ribu hingga Rp600 ribu per lembar. Produk tersebut juga telah dibeli pegawai dan pengunjung IKN.

Namun, Alimuddin melihat tantangan berikutnya adalah bagaimana produk lokal tersebut memiliki daya tarik yang cukup kuat untuk diburu konsumen. Menurutnya, kreativitas harus terus bergerak karena selera pasar dapat berubah dalam waktu relatif singkat.

Ia mendorong perajin untuk terus mengembangkan desain, memahami tren, serta membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Dengan cara tersebut, batik IKN diharapkan tidak hanya dikenal karena cerita di balik motifnya, tetapi juga karena kualitas dan nilai ekonominya.

OIKN sebelumnya juga telah menyatakan wastra memiliki potensi menjadi bagian dari wajah Nusantara. Pengembangan motif diarahkan untuk memadukan cerita tentang Nusantara dengan kreativitas perajin sehingga menghasilkan karya yang memiliki identitas sekaligus daya saing.

Bagi Alimuddin, keberhasilan pengembangan batik IKN pada akhirnya bukan sekadar ketika motif baru berhasil dibuat. Ukuran yang lebih penting adalah ketika produk tersebut mampu diterima konsumen, diproduksi secara berkelanjutan, dan memberikan penghasilan bagi perajin lokal.

Dengan demikian, pengembangan wastra menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif di sekitar IKN. Batik tidak hanya ditempatkan sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai produk ekonomi yang memiliki peluang tumbuh bersama perkembangan Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....