BI Bidik Batik IKN Tembus Pasar Nasional hingga Global

  • 15 Sep 2026 12:10 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Bank Indonesia mendorong pengembangan batik di IKN agar memiliki kualitas dan daya saing lebih kuat. Penguatan kapasitas pengrajin menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai ekonomi produk wastra.

Kepala Sekretariat Kantor Bersama Bank Indonesia IKN, Sunarso, mengatakan pengembangan batik perlu dilakukan dari sisi produksi hingga pemasaran.

Menurutnya, peningkatan kualitas produk menjadi penting karena batik IKN akan berhadapan dengan produk wastra dari berbagai daerah.

Hal tersebut disampaikan Sunarso kepada RRI.CO.ID saat pelatihan pengembangan teknik membatik di Multifunction Hall Kemenko 1, KIPP IKN, Selasa, 15 September 2026.

Sunarso mengatakan persaingan produk wastra tidak cukup hanya mengandalkan motif dan warna. Kualitas produk dan pemahaman terhadap selera pasar juga menjadi bagian penting dalam pengembangan batik.

“Untuk bisa masuk ke pasar, kita harus perbaiki kualitasnya. Kita harus tahu apa itu selera pasar,” katanya.

Menurutnya, pelatihan selama tiga hari menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas para pengrajin. Kegiatan tersebut juga menghadirkan praktisi untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan dalam proses membatik.

Sunarso menjelaskan peningkatan kapasitas pengrajin menjadi bagian dari pendekatan hulu dalam pengembangan UMKM. Sementara dari sisi hilir, perhatian diarahkan pada kemampuan produk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Perluasan pasar, menurut Sunarso, tidak hanya dapat dilakukan melalui penjualan secara langsung. Kanal digital seperti e-commerce dan media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen di luar daerah.

“Untuk memperluas pasarnya tidak hanya dalam konteks bicara lokal, tapi juga bicara ke pasar yang lebih luas. Syukur-syukur nanti bisa skala internasional,” ujarnya.

Selain pemasaran digital, Sunarso menyebut kegiatan promosi langsung dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan batik IKN. Misal, salah satunya bisa melalui fashion show dalam berbagai kegiatan yang berlangsung di Nusantara.

Menurutnya, kegiatan promosi tersebut dapat memperlihatkan kualitas batik yang dikembangkan para pengrajin di IKN kepada masyarakat yang lebih luas.

“Bagaimana kita bisa tunjukkan bahwa ternyata IKN itu punya produk batik yang tidak kalah bagusnya dengan produk batik yang ada di luaran sana,” ucapnya.

Sunarso mengatakan pengembangan batik juga berkaitan dengan upaya memperkuat produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. Batik tidak hanya dipandang sebagai karya wastra, tetapi juga sebagai produk yang perlu menyesuaikan kebutuhan konsumen.

Ia menilai pengrajin perlu memahami perkembangan pasar tanpa meninggalkan identitas dan kearifan lokal. Pendekatan tersebut diperlukan agar karakter budaya tetap terjaga sekaligus membuat produk memiliki daya saing.

Dalam pelatihan tersebut, BI juga menekankan pentingnya pembelajaran dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan. Pengrajin didorong terbuka terhadap teknik dan wawasan baru untuk meningkatkan kualitas produknya.

Sunarso menambahkan pengembangan UMKM tidak berhenti pada kemampuan produksi. Pemahaman mengenai pemasaran dan pengelolaan usaha juga menjadi bagian dari penguatan kapasitas pelaku usaha.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan batik di IKN ditempatkan sebagai bagian dari penguatan sektor ekonomi kreatif. Kualitas produk, kemampuan membaca pasar dan pemanfaatan kanal pemasaran menjadi unsur penting dalam membangun daya saing wastra IKN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....