BI Siapkan Tiga Motif Batik sebagai Identitas Khas IKN
- 15 Sep 2026 11:00 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Bank Indonesia menyiapkan tiga motif batik untuk menjadi identitas khas Ibu Kota Nusantara, setelah 15 motif karya pembatik lokal melalui proses kurasi.
Kepala Sekretariat Kantor Bersama Bank Indonesia IKN, Sunarso, mengatakan tiga motif tersebut akan dipilih dari 15 motif yang telah dikurasi bersama pendamping. Proses pengembangan dilakukan agar batik IKN memiliki karakter budaya sekaligus nilai ekonomi yang mampu diterima pasar.
Sunarso menyampaikan hal tersebut saat ditemui rri.co.id dalam pelatihan pengembangan teknik membatik di Multifunction Hall Kemenko 1, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN, Selasa, 15 September 2026.
Menurut Sunarso, pengembangan batik menjadi bagian dari upaya membangun identitas IKN melalui produk kreatif masyarakat. IKN ke depan tidak hanya diposisikan sebagai ibu kota politik, tetapi juga sebagai daerah tujuan wisata.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi produk batik untuk menjadi oleh-oleh khas yang dibawa pulang pengunjung. Karena itu, batik IKN perlu memiliki ciri yang mudah dikenali sekaligus memiliki kualitas yang mampu bersaing.
“Kemarin kami sudah 15 motif sudah dikurasi. Dan 15 motif juga sudah kami coba bikin dummy-nya, bagaimana kalau ini diterapkan di kain batik yang utuh seperti apa,” kata Sunarso.
Dari 15 motif tersebut, Bank Indonesia bersama OIKN akan memilih tiga motif yang nantinya diarahkan menjadi batik khas IKN. Motif terpilih juga disiapkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk suvenir dan seragam.
Sunarso mengatakan pemilihan tersebut tidak hanya mempertimbangkan keunikan motif. Karya yang dikembangkan juga harus memiliki peluang diterima pasar sehingga identitas budaya dapat berjalan beriringan dengan kepentingan ekonomi pengrajin.
Ia menilai keberadaan motif khas akan memudahkan masyarakat mengenali produk batik yang berasal dari IKN. Pada saat yang sama, permintaan terhadap motif terpilih diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi antarpengrajin.
Menurut Sunarso, para pembatik nantinya perlu saling mendukung untuk memenuhi permintaan apabila salah satu motif telah dipilih dan mendapatkan respons positif dari pasar. Dengan demikian, pengembangan batik tidak berhenti pada penciptaan desain.
“Kita harus punya motif yang khas di IKN sehingga nanti kalau memang sudah terpilih dan digemari pasar, saatnya kita bahu-membahu untuk memenuhi kebutuhan pasar itu,” katanya.
Upaya tersebut melanjutkan proses pengembangan wastra yang sebelumnya telah dilakukan OIKN dan Bank Indonesia. Pada Juni 2026, kedua lembaga menggelar workshop pengembangan motif batik yang melibatkan sembilan kelompok batik dan wastra dengan total 50 peserta, termasuk 30 pembatik yang mendapat pendampingan desain.
Pendampingan tersebut melibatkan Tepa Selira sebagai pelaku usaha dan pengembang batik. Prosesnya tidak hanya mengajarkan pembuatan motif, tetapi juga menggali karakter dan cerita Nusantara untuk diterjemahkan ke dalam desain batik.
Pengembangan identitas batik juga memiliki basis ekonomi yang sudah mulai tumbuh di sekitar IKN. OIKN mencatat Batik Semoi yang diproduksi masyarakat Sepaku telah dibeli pengunjung Nusantara dan pekerja di kawasan tersebut, dengan produksi mencapai sekitar 70 kain per bulan.
Sunarso berharap proses kurasi dan pengembangan tiga motif tersebut dapat menjadi tahap awal lahirnya produk wastra yang merepresentasikan IKN. Produk itu nantinya diharapkan tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi para pengrajin lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....