Buku Cerita Dwibahasa Kaltim Hadir dalam Format Digital
- 18 Agt 2026 07:31 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Keterbatasan pencetakan tidak menjadi penghalang bagi Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur untuk memperluas akses buku cerita anak dwibahasa. Produk penerjemahan tersebut kini tersedia secara digital sehingga masyarakat dapat membaca dan mengunduhnya secara gratis.
Buku cerita anak dwibahasa merupakan salah satu produk Balai Bahasa Kaltim, yang memuat cerita dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Buku tersebut mengangkat berbagai bahasa daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sekaligus memperkenalkan unsur budaya lokal kepada pembaca anak.
Kehadiran versi digital menjadi penting karena tidak seluruh buku dapat dicetak dan dibagikan secara fisik. Balai Bahasa Kaltim kemudian menempatkan buku dalam format PDF di laman resminya, agar masyarakat tetap memperoleh bahan bacaan meskipun distribusi buku cetak terbatas.
Merry Debby Aritonang dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur mengatakan, buku tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas, bukan hanya oleh sekolah atau pembaca di wilayah Kaltim dan Kaltara. Akses digital memungkinkan buku dibaca dari rumah, sekolah maupun tempat lain selama tersedia jaringan internet.
“Kami harap buku yang telah diterbitkan ini dapat dimanfaatkan secara luas. Tidak hanya dalam bentuk cetak, tetapi dalam bentuk digital,” kata Merry, dikutip Senin, 17 Agustus 2026.
Untuk mengakses buku, masyarakat dapat membuka laman Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, memilih bagian produk, kemudian masuk ke kategori cerita anak. Setelah memilih buku yang diinginkan, pembaca mengisi formulir berisi identitas dan tujuan membaca sebelum buku dapat diunduh.
Pengisian formulir bukan sekadar persyaratan mengakses buku. Data tersebut digunakan Balai Bahasa untuk memantau pemanfaatan produk yang telah diterbitkan. Dari data itu, dapat terlihat buku mana yang banyak diunduh dan siapa saja yang memanfaatkan buku tersebut.
Ketersediaan buku secara digital juga membuka peluang lebih luas bagi taman bacaan masyarakat atau TBM untuk menjadi mitra literasi. Jika TBM ingin mencetak dalam jumlah banyak, Balai Bahasa meminta adanya pemberitahuan atau izin karena buku tersebut merupakan produk milik negara dan tidak diperjualbelikan.
Dengan akses yang semakin mudah, buku cerita dwibahasa diharapkan dapat menjadi bagian dari perpustakaan pribadi masyarakat. Anak-anak dapat membaca cerita yang mengenalkan bahasa daerah dan budaya lokal tanpa harus menunggu distribusi buku fisik. Keberadaan buku digital memberi ruang lebih besar bagi masyarakat untuk ikut menjaga keberlanjutan bahasa daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....