Perubahan Ekosistem Mahakam Paksa Warga Kutai Beralih dari Profesi Alam
- 22 Jul 2026 07:48 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Degradasinya kualitas lingkungan sungai dan hutan di wilayah Kalimantan Timur memaksa masyarakat Kutai mengalami transisi ekonomi secara masif. Aktivitas tangkap ikan air tawar serta mata pencaharian berbasis hasil hutan yang menjadi tumpuan hidup selama berdekade kini tidak lagi mampu menjamin kesejahteraan warga secara berkelanjutan.
Fenomena perubahan ekologi ini terekam jelas dalam dialog interaktif program Pantas Kutai di RRI Samarinda Pro 4 pada Rabu, 15 Juli 2026. Para pendengar menyampaikan keprihatinan atas berkurangnya populasi ikan khas Mahakam akibat kepadatan lalu lintas perairan industri serta penggunaan metode penangkapan yang merusak.
Narasumber siaran, Busu Ipay, menceritakan bagaimana perubahan ruang hidup dan sulitnya mencari mata pencaharian alami seperti dahulu kini berbenturan dengan aturan perlindungan satwa dan perubahan lanskap hutan. Kondisi ini membuat aktivitas pencarian hasil alam semakin terbatas.
"Bahari kami mencari hasil sungai dan hutan untuk penghidupan, tapi sekarang kondisi sudah berubah dan banyak yang dilarang karena perlindungan alam," ujar Busu Ipay.
Di samping masalah hilangnya habitat perikanan sungai, praktik penangkapan ilegal seperti penggunaan alat setrum bertegangan tinggi juga memperparah kerusakan ekosistem air tawar. Fenomena ini tidak hanya merusak rantai makanan flora-fauna sungai, tetapi juga sering kali membahayakan keselamatan jiwa para pelaku penangkapan ikan itu sendiri.
Merespons kondisi alam yang tidak lagi bersahabat, masyarakat lokal secara perlahan mengalihkan pilihan mata pencaharian mereka ke sektor perkebunan kelapa sawit maupun sektor jasa. Transisi ini dinilai sebagai langkah pragmatis demi kelangsungan ekonomi keluarga di tengah tingginya biaya hidup modern.
Busu Rinjani, salah seorang pendengar dari kawasan hulu menjelaskan bahwa alih fungsi lahan dan kemitraan kebun sawit kini menjadi salah satu pilihan utama warga untuk membiayai pendidikan anak dan kebutuhan harian.
"Lahan kebun sawit itu yang akan mengangkat derajat bubuhan etam di kemudian hari, membiayai kehidupan etam anak etam sekolah dari sawit," katanya.
Kendati demikian, tantangan ekologis jangka panjang dari alih fungsi lahan dan hilangnya profesi berbasis lingkungan tetap memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak. Keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi modern dan pemulihan ekosistem Mahakam menjadi kunci penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....