Menatap Pergeseran Tradisi Batamat Al-Qur'an Banjar di Era Modern

  • 25 Agt 2026 02:49 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pelaksanaan tradisi Batamat Al-Qur’an pada masyarakat Banjar kini mulai mengalami pergeseran bentuk serta dinamika sosial seiring derasnya arus modernisasi dan perubahan pola pembelajaran mengaji di tengah masyarakat.

Apabila pada masa lalu anak-anak mengaji di rumah guru tanpa dipatok tarif nominal dan dipenuhi nilai keikhlasan, saat ini pola pengajaran Al-Qur'an telah banyak bertransformasi menggunakan metode cepat seperti Iqra, Ummi, dan Tilawati di lembaga TPA modern.

Perubahan suasana pengajaran dari zaman dulu ke era sekarang turut dirasakan oleh pembawa acara, Acil Ewwi, yang menyoroti kepraktisan metode pembelajaran saat ini dibanding metode klasik

"Dulu mengeja huruf hijaiyah ditanya dari kecil, kalau berpindah diulang lagi sampai khatam. Kalau sekarang pakai metode Iqra, tidak pakai mengeja dari awal lagi supaya cepat," kata Acil Ewwi, dikuti, Senin, 24 Agustus 2026.

Selain metode mengaji, bentuk perlengkapan fisik dalam prosesi tradisi pun turut menyusut. Acil Mila menambahkan bagaimana sajian dan hiasan khas khataman masa lalu kini semakin jarang ditemui di era modern.

"Biasanya memang tradisi kita masyarakat Banjar kalau khataman Al-Qur'an itu menggunakan payung berhias bunga-bunga, ada kembang rampai, ada ketan, dan ada telur," kata Acil Mila.

Kuliner tradisional seperti kue sagon kerucut dan hiasan telur bertangkai lidi kini kian sulit ditemukan, kerap digantikan oleh paket makanan instan atau pemberian uang tunai.

Kondisi komersialisasi tempat mengaji modern juga sempat menjadi sorotan kritis para pendengar, di mana keikhlasan antar sesama warga diharapkan tetap menjadi landasan utama pembelajaran Al-Qur'an.

Salah satu pendengar dalam sambungan telepon interaktif, Julak Amay, mengkritisi fenomena tempat mengaji yang menetapkan tarif minimum di tengah masyarakat.

"Ada yang ditulis seikhlasnya, tetapi dibatasi minimal nominal tertentu. Harusnya majelis mengaji mengutamakan ikhlas dan saling meredai," kata Julak Amay.

Sementara itu, untuk pelaksanaan ritual syukuran khataman di lingkungan perkotaan saat ini lebih berfokus pada momentum akhir bulan Ramadan dengan penyajian konsumsi yang lebih praktis.

"Kalau sekarang lebih sering dilaksanakan bersama-sama di akhir Ramadan dengan hidangan seperti nasi kuning dan telur yang lebih praktis," ujar pendengar lainnya, Julak Wahyu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....