Kilas Balik Usaha Tradisional Kutai: Panggilan Menjaga Identitas yang Terkikis
- 22 Jul 2026 08:18 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perubahan zaman dan masuknya industri modern di tanah Kalimantan Timur dinilai kian menggerus berbagai mata pencaharian tradisional masyarakat asli Kutai. Aktivitas ekonomi lokal yang dahulunya bergantung pada kelestarian alam, seperti penangkapan ikan secara tradisional di aliran sungai Mahakam, behuma (berladang), serta pembuatan kerajinan bahan alam, kini berada di ambang kemunduran.
Dalam program siaran Pantas Kutai yang disiarkan RRI Samarinda Pro 4 pada Rabu, 15 Juli 2026, isu pergeseran profesi ini menjadi sorotan utama dalam diskusi bertema "Usaha Etam di Tanah Kutai". Diskusi tersebut menggarisbawahi pentingnya merawat mata pencaharian berbasis budaya lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas daerah.
Narasumber siaran, Busu Ipay Kedawit, mengungkapkan bahwa pada masa lalu masyarakat Kutai sangat bergantung pada hasil sungai dan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup harian. Aktivitas seperti pencarian ikan air tawar khas sungai Mahakam hingga pengelolaan hasil hutan merupakan mata pencaharian utama yang diturunkan antar-generasi.
"Di mana bahasa Kutai dan tradisi usaha ini adalah asli milik etam. Bahasa dan mata pencaharian Kutai adalah jati diri etam sebagai orang Kalimantan Timur," ujar Busu Ipay.
Senada dengan hal tersebut, pendengar program siaran, Busu Rinjani, menyoroti bagaimana lanskap mata pencaharian tradisional di kawasan hulu kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Ekspansi sektor perkebunan dan industri skala besar dinilai mengubah pola kerja masyarakat secara drastis dari sektor tradisional ke sektor komoditas tunggal.
"Wah ini kelihatan lagi dah, orangnya banyak belarian. Kelapa sawit ini segala macam, di hulu ada ribuan hektar," ujar Busu Rinjani saat berdialog melalui sambungan telepon.
Selain sektor perikanan sungai dan pertanian, berbagai keahlian kriya khas Kutai seperti pembuatan kerajinan kajang, atap sirap kayu ulin, perahu gubang, hingga karya pandai besi lokal juga dilaporkan kian langka. Keterbatasan bahan baku alami dan dominasi material sintetis menjadi faktor utama meredupnya usaha kriya tersebut.
Para pemerhati budaya lokal mengimbau agar nilai-nilai kearifan lokal dalam berusaha tetap dipertahankan. Kebangkitan UMKM berbasis produk khas Kutai dan pelestarian seni kriya diharapkan dapat menjadi fondasi ekonomi berkelanjutan tanpa harus mengorbankan warisan leluhur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....