Tradisi Manjapuik Marapulai: Simbol Musyawarah dan Mufakat Suku Minang
- 08 Jul 2026 06:59 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Keberhasilan sebuah perkawinan dalam adat Minangkabau tidak hanya ditentukan oleh kesiapan sepasang kekasih, melainkan dari eratnya mufakat dua keluarga besar. Hal ini tercermin jelas dalam tradisi Manjapuik Marapulai, sebuah prosesi menjemput calon pengantin pria oleh pihak wanita yang hingga kini masih dipertahankan oleh komunitas Minang di Samarinda. Tradisi ini menonjolkan bagaimana penyelesaian segala urusan adat harus melalui jalan diplomasi, diskusi, serta musyawarah yang matang.
Sebelum rombongan penjemput melangkahkan kaki, kedua belah pihak sebenarnya telah melakukan kesepakatan awal terkait teknis penjemputan hingga materi hantaran. Di sinilah nilai sosial musyawarah diuji, di mana batas kemampuan keluarga wanita dan hak kehormatan keluarga pria dipertemukan demi mencapai kata mufakat. Jika terjadi ketidaksesuaian di lapangan dari perjanjian awal, pihak keluarga pria bahkan memiliki hak untuk menunda keberangkatan hingga kesepakatan dipenuhi.
"Semua diawali musyawarah sebelum mufakat. Musyawarah itu diawali dengan babaleh pantunnya, sehingga orang yang dikirim untuk prosesi itu tentu orang yang berpengalaman," ujar Uni Aziar dalam dialog budaya Pantas Minang pada Mei 2026 lalu, mengenai pentingnya elemen komunikasi adat yang melibatkan para tetua. Keterampilan berbahasa halus dan diplomatis menjadi kunci utama agar prosesi berjalan dengan damai dan penuh rasa kekeluargaan.
Pertemuan dalam Manjapuik Marapulai juga mencakup jamuan makan bersama yang disiapkan oleh tuan rumah atau pihak pria setelah negosiasi lewat pantun selesai dilakukan. Makan bersama ini memegang esensi sosial yang sangat tinggi dalam mencairkan ketegangan pembicaraan adat sebelumnya. Melalui hidangan yang disajikan, terikatlah rasa kebersamaan dan keramahtamahan yang menjadi fondasi awal hubungan bertetangga atau berkerabat baru.
Prosesi ini pun kian menarik karena adanya kewajiban membawa buah tangan atau oleh-oleh makanan tradisional dari pihak wanita yang menjemput. "Biasanya pengiring itu membawa makanan buah tangan, bisa berupa singgang ayam, nasi lamak, randang, atau buah pisang untuk dihadiahkan ke keluarga laki-laki," kata Uni Yet, narasumber lainnya yang ikut mengulas rincian bawaan wajib dalam adat penjemputan tersebut.
Seiring bertambahnya usia, kesadaran para perantau akan pentingnya nilai moral dalam pernikahan adat ini justru semakin menguat. "Setelah kita berumur, kita tambah kepingin melakukan adat, lebih tahu lagi, lebih mendalami, rasanya senang dan bahagia," ujar Uni Aziar berbagi pengalamannya tentang bagaimana nilai-nilai luhur moral ini menyentuh hati di masa tua. Warisan nilai inilah yang berusaha mereka tularkan kepada generasi muda di kota Samarinda.
Sebagai penutup, program Pantas Minang menegaskan bahwa Manjapuik Marapulai mengajarkan nilai penting tentang posisi pria yang sangat dihormati sebagai calon urang sumando (menantu). Melalui doa-doa keselamatan yang dipanjatkan di akhir prosesi, tradisi ini mengikat hubungan sosial antar-manusia sekaligus memperkuat dimensi spiritual perkawinan. Gotong royong dan mufakat yang terkandung di dalamnya menjadi modal sosial berharga bagi keharmonisan masyarakat perantau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....