Kolaborasi Kreatif Jadi Cara Dekatkan Budaya Lokal dengan Anak Muda
- 11 Jul 2026 18:21 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Arus budaya global yang semakin kuat membuat generasi muda banyak mengenal musik dan budaya dari luar negeri, seperti musik Barat, Korea, hingga Jepang, dan kondisi ini tidak harus menjadi ancaman bagi keberlangsungan budaya daerah. Dalam program acara talkshow Pro 4 RRI Samarinda, dibahas mengenai peran generasi muda dalam melestarikan musik, bahasa, dan tradisi.
Dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Nella Putri Giriani, mengatakan salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menghadirkan budaya lokal melalui medium yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda. Menurutnya, transformasi karya budaya ke dalam bentuk baru dapat menjadi jembatan agar tradisi lebih mudah diterima.
"Mungkin kita bisa melakukan alih wahana, bagaimana satu tradisi atau satu karya bisa berpindah medium menjadi karya lain. Misalnya cerita rakyat menjadi naskah drama, syair menjadi musik, atau bentuk-bentuk lain yang lebih dekat dengan generasi muda," ujar Nella.
Ia menjelaskan, pendekatan berbasis komunitas atau kelompok kolektif juga penting dilakukan dalam mengenalkan budaya lokal. Melalui komunitas, proses belajar budaya dapat berlangsung secara lebih terbuka karena tidak ada jarak antara pengajar dan peserta, melainkan menjadi ruang belajar bersama.
"Praktik berbasis komunitas atau kolektif itu penting, karena di dalamnya kita belajar bersama. Tidak ada yang merasa menjadi guru atau murid, semuanya setara untuk memahami dan mengembangkan budaya," ucapnya.
Sementara itu, Dosen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Nofriyan Hidayatulloh, menilai pengenalan musik tradisional kepada generasi muda membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam. Menurutnya, musik tradisi tidak hanya berbicara tentang bunyi, tetapi juga mengandung simbol, nilai, dan makna yang perlu dikaji.
"Musik tradisi tidak bisa langsung kita ambil atau maknai begitu saja. Di dalam seni ada simbol-simbol yang memiliki banyak tafsir, sehingga perlu waktu untuk memahami dan merefleksikannya," ujar Nofriyan.
Ia menambahkan, di tengah kehidupan digital yang serba cepat, tradisi justru menawarkan ruang untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi. Menurutnya, musik tradisional memiliki kekuatan dalam menghadirkan pengalaman yang lebih mendalam melalui interaksi dan pemaknaan budaya.
"Di tengah dunia yang serba cepat, tradisi memberikan ruang untuk mengambil jarak, menggali kembali pengalaman, dan melihat apa yang sebenarnya bisa kita pelajari dari budaya yang kita miliki," katanya.
Pelestarian budaya juga membutuhkan peran berbagai pihak, mulai dari seniman, akademisi, jurnalis, kurator, hingga kritikus budaya. Kolaborasi tersebut diperlukan agar budaya lokal tidak hanya dikenal, tetapi juga terus berkembang sesuai zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....