Menjaga Identitas Minang Melalui Tradisi Manjapuik Marapulai di Rantau

  • 08 Jul 2026 07:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kerinduan akan kampung halaman sering kali diobati para perantau Minangkabau dengan tetap teguh mempertahankan adat istiadat leluhur mereka. Salah satu tradisi sakral yang terus dihidupkan di tanah rantauan seperti di Kalimantan Timur adalah prosesi Manjapuik Marapulai (menjemput pengantin laki-laki). Tradisi ini bukan sekadar pelengkap pesta pernikahan biasa, melainkan sebuah ritual wajib yang sarat akan makna simbolis keimanan, musyawarah, serta persatuan antar dua keluarga besar.

Dalam perbincangan Pesona Antar Komunitas Minang di Pro 4 RRI Samarinda pada Mei 2026 lalu, dijelaskan bahwa esensi utama dari menjemput calon pengantin pria ini adalah bentuk penghormatan tertinggi dari pihak keluarga wanita (Anak Daro) kepada calon suaminya. Sebelum akad nikah dilangsungkan, utusan dari pihak wanita yang terdiri dari niniak mamak dan tokoh masyarakat akan mendatangi rumah pihak pria. Kedatangan mereka bertujuan untuk menjemput secara resmi serta memberikan penghormatan agar sang pria siap memimpin keluarga barunya.

"Esensinya manjapuik adalah penghargaan terhadap laki-laki, jadi menghormati lelaki sebagai calon anggota keluarga baru," ujar Uni Yet saat menjelaskan esensi penting dari perlakuan adat Minang terhadap calon pengantin pria. Melalui prosesi ini, masyarakat luas juga diberi tahu bahwa sang pria telah dewasa dan siap memegang tanggung jawab besar sebagai seorang kepala rumah tangga di tengah masyarakat perantauan.

Prosesi ini tergolong unik karena melibatkan hantaran berupa perlengkapan carano, pakaian lengkap bagi pengantin pria dari kepala hingga kaki, serta makanan khas berupa singgang ayam dan rendang. Sebelum rombongan diperbolehkan masuk ke rumah pihak pria, kedua belah pihak wajib melakukan tradisi babaleh pantun (berbalas pantun). Saling lempar peribahasa dan pantun adat ini menjadi bagian dari seni berkomunikasi Minangkabau yang menguji kesabaran dan kebijaksanaan masing-masing utusan.

Keluarga perantau Minang mengakui bahwa melaksanakan tradisi ini di kota orang memberikan kepuasan batin tersendiri. "Kita lestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap akar budaya dan jati diri sebagai orang Minangkabau," ujar Uni Aziar, narasumber lainnya dalam dialog budaya tersebut, yang menekankan pentingnya menjaga identitas meskipun jauh dari ranah Minang. Jati diri ini dianggap sebagai jangkar moral bagi generasi muda perantau.

Lebih dari itu, tradisi Manjapuik Marapulai juga menjadi momen sakral untuk mengumumkan gala (gelar adat) bagi pengantin pria. Di Minangkabau, seorang pria yang menikah akan mendapatkan gelar panggilan baru seperti Bagindo, Sidi, atau Sutan. Pengumuman gelar ini dilakukan langsung oleh pihak mamak (paman) agar keluarga istri dan masyarakat adat nantinya memanggil sang pria dengan gelar kehormatan tersebut, bukan lagi dengan nama kecilnya.

Melalui siaran bertajuk Pesona Antar Komunitas Minang tersebut, para tokoh adat Minang di Kalimantan Timur berharap kearifan lokal ini tidak tergerus zaman. Pemerintah daerah asal dan lembaga adat diharapkan terus bersinergi memberikan ruang bagi anak muda agar mengenal keindahan budaya ini. Menjaga Manjapuik Marapulai tetap hidup di perantauan adalah bukti nyata bahwa adat Minangkabau tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....