Mengenal Makna dan Simbol Perlengkapan Ritual Mandi Tian Mandaring Banjar
- 27 Jun 2026 11:57 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Melaksanakan ritual adat di era modern sering kali menghadapi tantangan tersendiri, terutama dalam hal pemenuhan syarat dan perlengkapan tradisi yang otentik. Kompleksitas tata cara inilah yang terkadang membuat sebagian masyarakat urban enggan mempraktikkan upacara adat di lingkungan keluarga mereka.
Menjawab tantangan tersebut, Acil Mila dan Acil Ewwi mengajak pendengar Pantas Banjar mengenai tata cara pelaksanaan ritual Mandi Tian Mandaring dalam adat Banjar pada Jum'at, 19 Juni 2026. Edukasi ini penting agar masyarakat memahami bahwa esensi ritual tetap bisa dijalankan tanpa harus kehilangan nilai sakralnya.
Setiap elemen dalam Mandi Tian Mandaring memiliki aturan main yang ketat, mulai dari penentuan hari baik, pemilihan jenis air bunga, hingga penggunaan mayang pinang yang harus dipecah di atas kepala sang ibu hamil sebagai simbol pembuka jalan kelahiran.
"Perlengkapan yang harus disiapkan itu cukup banyak dan tidak boleh sembarangan. Mulai dari air yang dicampur bunga tujuh rupa, minyak urut khusus, hingga kelapa gading yang digambari simbol tertentu untuk memprediksi atau mendoakan keselamatan bayi," ujar Acil Ewwi.
Selain itu, tantangan di perkotaan seperti Samarinda saat ini adalah mencari sesepuh atau pemandian (orang yang memandikan) yang benar-benar paham urutan mantra doa dan basuhan air ritual dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Prosesi memandikannya pun ada hitungannya, tidak asal guyur. Ada doa khusus yang dibacakan pada setiap siraman, dan airnya harus mengalir dengan tenang mencerminkan harapan agar persalinan nanti juga berjalan dengan tenang tanpa hambatan," kata Acil Ewwi menambahkan rincian jalannya prosesi.
Meskipun terkesan rumit bagi masyarakat modern, narasumber menekankan bahwa kelengkapan ubarampe tersebut sebenarnya bisa disesuaikan dengan kondisi geografis saat ini tanpa mengurangi rasa hormat kepada leluhur. Yang terpenting adalah niat tulus dan doa keselamatan yang dipanjatkan.
"Zaman sekarang mungkin susah cari pagar mayang atau janur tertentu di kota besar, tapi esensinya kan doa bersama keluarga. Melalui siaran RRI ini, kami ingin meluruskan bahwa merawat tradisi Tian Mandaring itu tidak sesulit yang dibayangkan, asal kita mau belajar dari para sesepuh," ujar Acil Mila menutup dialog pesona antar komunitas Banjar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....