Rambu Solo' di Tanah Rantau, 40 Kerbau Penghormatan Terakhir bagi Sang Penjaga Adat
- 31 Jul 2026 15:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Bontang - Aroma bambu basah dari deretan lantang atau pondok-pondok adat memenuhi kawasan Jalan Taman Siswa, RT 05, Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat. Di kejauhan, bunyi gong bertalu-talu memecah keheningan, bersahut-sahutan dengan embik puluhan kerbau yang telah disiapkan untuk prosesi adat.
Di bawah langit Bontang yang mendung, ribuan pelayat mengenakan pakaian serba hitam. Mereka datang dari berbagai daerah di Kalimantan Timur untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ester Madao, tokoh masyarakat Toraja yang wafat pada 11 Juni 2026.
Di tengah kerumunan itu, sebuah peti jenazah berdiri megah di bawah Lakkian, miniatur rumah adat Toraja bertingkat. Keluarga menggenggam sehelai kain merah yang membentang dari barisan depan hingga ke peti jenazah, menjadi simbol ikatan kasih yang mengiringi perjalanan terakhir sang ibu.

Tak jauh dari lokasi upacara, kepulan asap terus mengepul dari dapur umum. Sejak pagi, ratusan anggota keluarga dan kerabat bergotong royong memasak dalam kuali-kuali berukuran besar. Ada yang memotong sayuran, menanak nasi, menyiapkan kopi, hingga menyajikan makanan bagi tamu yang datang silih berganti. Di tengah duka, semangat kebersamaan menjadi pemandangan yang tak pernah putus selama sebelas hari pelaksanaan Rambu Solo'.
Bagi masyarakat Toraja, kematian bukan sekadar perpisahan. Ia adalah perjalanan sakral yang harus diantar dengan penuh penghormatan.
Itulah sebabnya keluarga besar Ester Madao menggelar Rambu Solo', ritual adat pemakaman yang berlangsung selama 11 hari, mulai 18 hingga 28 Juli 2026.
Ester bukan sosok biasa. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai tokoh masyarakat Toraja di Bontang, pernah menjadi anggota DPRD Kota Bontang periode 1999–2004, sekaligus menjabat Ketua Lembaga Adat Toraja Bontang. Di kampung halamannya di Toraja Utara, ia juga menyandang jabatan Kaparengngan, pemangku adat senior yang dihormati.
Anak bungsunya, Sion, mengatakan keluarga sempat dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Sebagai Kaparengngan, Ester seharusnya dimakamkan di kampung halaman di Toraja Utara. Namun setelah melalui musyawarah keluarga, diputuskan sang ibu dimakamkan di Bontang agar tetap dekat dengan anak dan cucunya.
"Karena dimakamkan di rantau, seluruh prosesi adat tetap harus dilaksanakan secara lengkap. Itu menjadi bentuk penghormatan terakhir kami kepada ibu," ujarnya.
Keputusan itu membuat keluarga harus memenuhi seluruh syarat upacara adat. Dalam struktur adat Toraja, kedudukan Ester mengharuskan pelaksanaan Rambu Solo' pada tingkatan Sapu Randanan, yang mensyaratkan sedikitnya 24 ekor kerbau. Namun keluarga menyiapkan lebih dari itu.

Sebanyak 40 ekor kerbau, ditambah sapi dan kuda, didaftarkan dalam prosesi. Jumlah tersebut mengangkat pelaksanaan Rambu Solo' ke tingkat Wailampa, menjadikannya salah satu upacara adat Toraja terbesar yang pernah digelar di Kota Bontang.
Empat kerbau langka didatangkan langsung dari Toraja, yakni jenis Saleko, Bunga, Lotong Bokko, dan Balian. Kerbau Saleko menjadi yang paling bernilai dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.
"Orang luar mungkin melihat ini sebagai kemewahan. Padahal bagi kami, ini adalah kewajiban adat. Ini cara kami menghormati orang tua yang memiliki kedudukan adat tinggi," kata Sion.
Selama sebelas hari pelaksanaan, seluruh tahapan ritual dijalankan sesuai aturan adat, mulai dari persiapan lokasi, pendataan kerbau, arak-arakan peti jenazah, penyambutan tamu, hingga prosesi penghantaran ke tempat pemakaman.
Meski digelar di tanah rantau dengan penyesuaian lokasi karena berada di kawasan permukiman, nilai-nilai adat tetap dijaga.
"Selama makna dan tata cara adat dijalankan, Rambu Solo' tetap memiliki arti yang sama meski dilaksanakan di luar Toraja," ucap Sion mengakhiri
Menjelang prosesi terakhir, bunyi gong kembali menggema. Embik kerbau bersahut-sahutan mengiringi langkah keluarga yang masih menggenggam kain merah hingga ke pemakaman. Perlahan, peti jenazah diturunkan ke liang lahat di TPU Toraja, Bontang Barat.
Di tanah rantau itu, Ester Madao akhirnya dimakamkan. Namun melalui Rambu Solo', keluarga tidak hanya mengantar kepergiannya, melainkan juga menjaga agar warisan adat Toraja tetap hidup, meski ratusan kilometer dari kampung halaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....