Makam Leluhur Kutai Terancam Hilang, Diduga Digusur untuk Kebun Sawit

  • 24 Mei 2026 19:29 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Situs pemakaman para leluhur dan penyebar agama Islam tertua di tanah Kutai, Kalimantan Timur, kini memprihatinkan. Banyak makam bersejarah telantar, rusak akibat abrasi dan genangan air, bahkan sebagian diduga telah digusur dan dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit milik swasta.

Minimnya perhatian masyarakat serta lambatnya penanganan dari instansi terkait memicu kekhawatiran hilangnya bukti fisik peradaban dan identitas sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara.

Kondisi tersebut mengemuka dalam dialog interaktif budaya berbahasa Kutai di RRI Samarinda, dikutip Minggu 24 Mei 2026. Pegiat budaya Kutai, Pardiansyah, menyampaikan keprihatinannya terhadap kerusakan makam-makam tua yang tersebar di wilayah Jembayan, Muara Kaman, Kutai Timur, hingga Kutai Barat.

Menurutnya, situs-situs tersebut merupakan bukti autentik proses peralihan keyakinan masyarakat Kutai dari Hindu menuju Islam. Namun, kini keberadaannya seolah dibiarkan tanpa perawatan di tengah hutan belantara.

Pria yang akrab disapa Busu Ipay itu, mengaku kecewa atas hilangnya sejumlah situs makam akibat ekspansi lahan perkebunan sawit. Persoalan itu bahkan telah ia sampaikan langsung kepada pihak Kesultanan Kutai Kartanegara.

“Saya sempat bertemu dengan Ayahanda Sultan Arifin. Saya sampaikan bahwa makam-makam leluhur kita digusur untuk dijadikan kebun sawit. Ini bukti sejarah kita. Kalau digusur begitu, kita tidak bisa lagi membuktikan sejarah kepada generasi mendatang,” ujar Busu Ipay.

Ia juga menyoroti sikap sebagian masyarakat Kutai yang dinilai kurang peduli terhadap warisan leluhur. Kondisi tersebut berbeda dengan daerah lain seperti Jawa dan Banjarmasin yang dinilai mampu merawat makam tokoh sejarah dan waliullah secara profesional hingga berkembang menjadi destinasi wisata religi.

Selain minim perhatian, akses menuju situs makam juga dinilai sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan warga, jalan menuju makam para raja dan habaib di wilayah Jembayan masih berupa jalan tanah yang rusak dan berlumpur saat hujan turun.

Penanda situs maupun papan informasi cagar budaya di lokasi juga disebut sangat sederhana, hanya menggunakan papan kayu dengan tulisan yang mulai pudar akibat cuaca.

Pendapat lain diutarakan pendengar RRI, Amay, yang menilai pemerintah daerah sebenarnya memiliki kemampuan anggaran untuk melakukan perawatan situs sejarah, baik melalui Dinas Kebudayaan maupun alokasi dana desa.

Ia mendorong agar sebagian anggaran desa atau dana tingkat RT dapat digunakan untuk pemeliharaan fisik situs bersejarah sebelum seluruh jejak sejarah tersebut hilang permanen.

“Dana itu sebenarnya bisa digunakan untuk peralatan, pemagaran, atau pengecatan makam. Makam leluhur ini adalah pasak bumi kita, bukti sejarah yang sangat penting untuk pendidikan. Kalau rusak dan hilang, ke mana lagi anak cucu kita atau para peneliti mencari referensi autentik?” kata Amay.

Hilangnya makam-makam kuno tersebut dikhawatirkan memutus rantai pengetahuan sejarah lokal bagi generasi muda Kalimantan Timur. Ketika bukti fisik seperti nisan ulin kuno dan makam para penyebar Islam hilang, klaim sejarah sepihak dari pihak luar terhadap budaya asli Kutai dinilai akan semakin sulit dibantah di masa mendatang.

Warisan peradaban tertua di Nusantara itu kini dinilai bergantung pada ketegasan regulasi cagar budaya serta meningkatnya kepedulian masyarakat Benua Etam terhadap pelestarian sejarah daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....