Strategi Duta Bahasa Kampanyekan Bahasa Indonesia yang Baku
- 17 Mei 2026 08:18 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Menghadapi gempuran bahasa slang yang banyak ditemui di media sosial, diperlukan strategi komunikasi yang adaptif dan kreatif agar pesan pelestarian bahasa dapat diterima dengan baik.
Tantangan terbesar dalam dunia digital hari ini adalah bagaimana merebut perhatian netizen yang memiliki durasi perhatian (attention span) sangat pendek. Konten edukasi bahasa harus mampu bersaing dengan jutaan konten hiburan lainnya yang berseliweran setiap detik. Jika dikemas secara monoton, konten bahasa baku dipastikan akan langsung dilewati oleh pengguna media sosial.
Afifah Amani, Pemenang III Putri Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, sangat menyadari dinamika audiens di dunia maya yang sangat selektif dan menyukai hal-hal visual yang dinamis. Strategi konten yang diterapkan harus mengikuti psikologi pengguna media sosial masa kini agar pesan edukasi tidak mental di tengah jalan.
"Kalau di sosial media, misalnya kita selalu menggunakan bahasa baku, yang ada viewers-nya malah berkurang atau orang asal scroll aja karena tidak terlalu terlihat menarik dan mungkin ngantuk Jadi, untuk edukasi di sosial media kita sesuaikan penggunaan bahasanya sesuai dengan nanti viewers pahamnya seperti apa," ujarnya dalam program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda, Selasa 5 Mei 2026.
Melalui metode penyesuaian audiens ini, para Duta Bahasa berupaya menyisipkan edukasi bahasa baku di tengah tren yang sedang viral. Langkah ini dinilai jauh lebih efektif untuk membangun kesadaran berbahasa secara halus tanpa memunculkan kesan mendikte.
Di sisi lain, edukasi yang bersifat langsung di lapangan atau secara luring (offline) juga tetap memegang peranan krusial. Saat bertugas di tengah masyarakat atau dalam acara formal, para Duta Bahasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan istilah-istilah bahasa Indonesia yang sudah lama ada di KBBI namun jarang digunakan.
| Baca juga: Teknologi AI Jadi Peluang Promosi Budaya |
Pemenang IV Putra Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, Muhammad Zaini Ghoni, menceritakan pengalaman praktisnya saat mencoba menerapkan bahasa baku dalam aktivitas nyata sebagai pemandu acara atau perwakilan publik. Menurutnya, penggunaan langsung istilah unik akan memberikan dampak memori yang lebih kuat bagi pendengarnya.
"Kayak mungkin ‘Silakan Bapak/Ibu bisa menikmati snackbox’ tapi kita gunakan bahasa Indonesia jadi ‘kudapan’ gitu. Jadi ‘Silakan Bapak/Ibu untuk menikmati kudapannya’ gitu. Jadi, menurut saya kedengerannya lebih membekas di orang-orang," katanya.
Melalui contoh-contoh sederhana seperti mengganti kata “snackbox” menjadi "kudapan", masyarakat menjadi tahu bahwa bahasa Indonesia memiliki padanan kata yang indah. Pola edukasi persuasif dan aplikatif seperti inilah yang terus digencarkan demi mengikis stigma bahwa bahasa Indonesia baku itu membosankan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....