Mengenal Filosofi Tradisi Menyambut Kelahiran Bayi dalam Masyarakat Sunda

  • 07 Mei 2026 10:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Program Pantas Sunda yang mengudara di RRI Pro 4 Samarinda kembali menghadirkan ulasan mendalam mengenai kekayaan budaya Nusantara. Pada edisi kali ini, pembahasan difokuskan pada rangkaian upacara adat Sunda dalam menyambut kehamilan hingga kelahiran bayi, sebuah tradisi yang sarat akan makna spiritual dan pengharapan keselamatan bagi sang buah hati.

Rangkaian adat ini dimulai sejak bayi masih dalam kandungan melalui upacara Tingkeban atau tujuh bulanan. Tradisi ini dilakukan saat usia kehamilan menginjak tujuh bulan dengan tujuan memohon keselamatan bagi ibu dan calon bayi agar proses persalinan berjalan lancar. Prosesi ini melibatkan ritual mandi bunga yang melambangkan kebersihan lahir dan batin bagi calon ibu.

Memasuki fase kelahiran, masyarakat Sunda mengenal tradisi Memelihara Tembuni atau ari-ari. Dalam kepercayaan Sunda, ari-ari dianggap sebagai saudara kembar bayi yang harus dirawat dengan penuh hormat. Ari-ari biasanya dibersihkan, dimasukkan ke dalam kendi bersama bumbu dapur dan diberi bambu kecil, kemudian dikubur di tempat yang bersih atau dihanyutkan sebagai simbol perlindungan bagi kehidupan bayi ke depan.

Narasumber program, Teh Iis, menjelaskan bahwa setiap detil dalam upacara adat tersebut mencerminkan nilai-nilai luhur yang diturunkan secara turun-temurun. Ia menekankan bahwa keindahan budaya Sunda terletak pada cara masyarakatnya memuliakan setiap tahapan awal kehidupan manusia melalui doa dan simbol-simbol alamiah.

"Tradisi seperti Tingkeban hingga Puput Puser merupakan manifestasi doa orang tua agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bersih hati dan selamat dunia akhirat. Kita ingin mengingatkan kembali bahwa identitas budaya kita adalah pondasi karakter yang harus terus dijaga kemurniannya," ujar Teh Iis melalui sambungan interaktif pada Selasa, 5 Mei 2026.

Selain pemeliharaan ari-ari, tradisi Nenjrag Bumi juga menjadi sorotan dalam diskusi. Ritual unik ini dilakukan dengan cara menghentakkan kaki ke bumi atau memukul lantai di dekat bayi yang sedang tidur. Tujuannya adalah agar bayi tidak mudah terkejut dan tumbuh menjadi sosok yang berani serta tegar dalam menghadapi tantangan hidup di masa depan.

Upacara penting lainnya adalah Puput Puser, yang dilakukan saat tali pusat bayi telah lepas secara alami. Biasanya, keluarga akan mengadakan syukuran sederhana dengan menyajikan bubur merah dan putih. Momen ini menandai fase baru di mana bayi dianggap sudah mulai mandiri secara fisik dari ketergantungan langsung pada tubuh sang ibu.Tidak ketinggalan, prosesi Ekahan (Aqiqah) dan Nurubkeun juga dibahas sebagai penutup rangkaian penyambutan bayi.

Sebagai penutup, program ini mengajak generasi muda untuk tetap melestarikan kearifan lokal meski di tengah kemajuan teknologi. Kesederhanaan zaman modern tidak seharusnya menghapus nilai-nilai luhur yang telah diwariskan, karena dalam setiap ritual sederhana sekalipun, terdapat doa dan harapan besar bagi keberlangsungan generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....