Belian Kutai Sebagai Warisan Leluhur dalam Pengobatan Tradisional dan Budaya
- 23 Apr 2026 13:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Tradisi Belian Kutai kembali menjadi sorotan sebagai salah satu warisan budaya tak benda yang masih eksis di tengah modernitas medis. Dalam siaran Pantas Kutai di RRI Pro 4 Samarinda, diskusi mendalam mengungkap Belian bukan sekadar ritual mistis, melainkan metode pengobatan tradisional yang digunakan masyarakat Kutai sejak zaman bahari untuk menangani penyakit non-medis atau gangguan makhluk halus.
Belian dalam adat Kutai terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya Belian Tanah untuk pengobatan gangguan di bumi dan Belian Dewa yang berhubungan dengan ritual ke langit. Ritual ini biasanya melibatkan persiapan sesajen berupa 41 macam jajanan tradisional yang terbuat dari tepung beras, serta penyembelihan ayam kampung sebagai bagian dari syarat negosiasi dengan alam gaib.
Salah satu tokoh budaya Kutai, Busu Ipay, menjelaskan Belian merupakan langkah terakhir ketika pengobatan medis dan ramuan tradisional tidak membuahkan hasil.
"Belian itu digunakan untuk pengobatan pada saat itu karena rumah sakit masih jarang. Jika ramuan dan tawar-menawar tidak mempan, barulah ritual Belian dilakukan sebagai jalan terakhir," ujar Busu Ipay, dikutip Kamis 23 April 2026.
Keajaiban ritual ini juga diakui oleh warga yang pernah mengalaminya langsung. Seorang pendengar, Eka ,berbagi pengalaman kepada RRI. Ia menceritakan bagaimana dirinya sembuh dari gangguan tidur selama satu tahun setelah menjalani ritual pembersihan tradisional.
"Saya tidak bisa tidur selama setahun penuh, sudah ke dokter dan psikiater tapi tidak ada perubahan. Setelah diobati secara tradisional, saya akhirnya bisa tidur nyenyak selama dua hari dua malam," ujarnya.
Selain sebagai sarana pengobatan, Belian kini juga diangkat sebagai bagian dari pelestarian jati diri bangsa. Di beberapa daerah seperti Guntung Bontang dan Jembayan, ritual ini rutin diadakan setiap tahun agar generasi muda tetap mengenal akar budaya mereka. Hal ini penting agar identitas masyarakat Kutai tidak hilang tergerus zaman.
Senada dengan Eka, pendengar lain, Iswahyudi, menambahkan meskipun zaman telah berubah, nilai-nilai sakral dalam Belian tetap harus dihormati. Ia mengenang bagaimana masyarakat di masa lalu sangat menggantungkan harapan pada ritual ini.
"Dulu di kampung kami, Belian sangat kental. Bahkan nama tempat seperti Muara Ancalong memiliki kaitan sejarah dengan tradisi membuang ancak atau sesajen," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....