Merawat Sastra Tradisi Kalimantan Timur lewat Tarsul dan Bedandeng
- 09 Agt 2026 12:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur resmi membuka kegiatan Sastraloka 2026 sebagai langkah strategis untuk menjaga dan menghidupkan kembali sastra tradisi daerah. Mengusung semangat “Etam Betarsul Bedandeng”, kegiatan ini menjadi ruang temu antara budaya, literasi, dan generasi muda. Kegiatan tersebut berlangsung di salah satu kafe di Samarinda, Sabtu 8 Agustus 2026.
Sastraloka 2026 dihadiri pegiat budaya, akademisi, serta komunitas literasi yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan sastra lisan Kutai. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali kekayaan sastra tradisi Kalimantan Timur kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi penerus kebudayaan daerah.
Dalam sambutannya, Tim Kerja Perlindungan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Yudianti Herawati, menegaskan bahwa sastra lisan, seperti tarsul dan bedandeng, merupakan bagian dari identitas kultural masyarakat yang harus terus dijaga di tengah arus modernisasi.
“Sastra tradisi adalah akar kebudayaan. Tarsul dan bedandeng bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga medium pewarisan nilai dan kearifan lokal lintas generasi,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan sastra tradisi tidak hanya penting sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai, sejarah, dan pandangan hidup masyarakat. Karena itu, pelestarian tarsul dan bedandeng membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar keberadaannya tetap terjaga dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Sastraloka 2026 tidak hanya dirancang sebagai forum diskusi, tetapi juga menjadi ruang praktik bagi peserta. Mereka diajak memahami, mempelajari, dan mengeksplorasi bentuk ekspresi tarsul dan bedandeng melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan kreatif. Dengan demikian, sastra lisan tersebut diharapkan tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Sementara itu, Direktur Sastraloka, Rahmad Azazi Rhomantoro, menegaskan revitalisasi sastra lisan membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda. Menurutnya, literasi tidak hanya terbatas pada teks tertulis, tetapi juga mencakup ekspresi lisan yang tumbuh dan hidup dalam tradisi masyarakat.
“Sastraloka adalah gerakan budaya. Kita tidak hanya menjaga, tetapi juga menghidupkan kembali sastra tradisi agar terus dipraktikkan oleh generasi hari ini,” katanya.
Ia menjelaskan, kolaborasi antara lembaga bahasa, komunitas, akademisi, dan pegiat literasi menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ekosistem pelestarian budaya. Melalui kolaborasi tersebut, Sastraloka 2026 diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif untuk merawat identitas lokal sekaligus membuka ruang kreativitas bagi generasi muda.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sastra tradisi Kalimantan Timur, khususnya tarsul dan bedandeng, masih memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang di tengah dinamika global. Pelestarian sastra lisan bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, melainkan juga memastikan nilai-nilai budaya lokal tetap hidup, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....