Riset Unmul Dorong Resiliensi Masyarakat lewat Intervensi Lingkungan
- 07 Okt 2026 06:56 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Tenggarong - Hasil penelitian disertasi tentang psikologi lingkungan mulai diterjemahkan Universitas Mulawarman menjadi kegiatan intervensi komunitas bagi masyarakat Kelurahan Loa Tebu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Program yang dilaksanakan Kamis, 1 Oktober 2026 tersebut memadukan psikoedukasi mengenai sleep hygiene dengan aktivitas komunitas produktif berbasis lingkungan melalui pengenalan budidaya Black Soldier Fly atau BSF.
Program ini merupakan tindak lanjut penelitian disertasi mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Mulawarman, Andreas Agung Kristanto, yang mengkaji aspek psikologi lingkungan masyarakat di wilayah pascatambang batu bara Kabupaten Kutai Kartanegara.
Andreas mengatakan hasil penelitian tidak cukup berhenti dalam bentuk publikasi akademik, tetapi perlu diterjemahkan menjadi aktivitas yang dapat diterapkan bersama masyarakat.
“Hasil riset akademik perlu diterjemahkan menjadi aktivitas yang dapat diterapkan bersama masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai bentuk intervensi komunitas yang sesuai dengan kondisi sosial dan lingkungan masyarakat di wilayah pascatambang,” ujar Andreas.
Menurut Andreas, hasil penelitian menjadi dasar pengembangan dua pendekatan dalam kegiatan tersebut. Pertama, psikoedukasi sleep hygiene untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kebiasaan dan lingkungan tidur yang baik.
Kedua, aktivitas komunitas produktif melalui pengenalan dan budidaya BSF sebagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam proses pembelajaran dan pengembangan keterampilan berbasis lingkungan.
Dalam materi sleep hygiene, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kualitas tidur. Faktor tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan sebelum tidur, tetapi juga kondisi lingkungan, seperti kebisingan, temperatur, pencahayaan, kualitas udara dan kondisi ruang tidur.
Andreas menjelaskan, budidaya BSF dalam program tersebut tidak ditempatkan sebagai terapi untuk meningkatkan kualitas tidur. Aktivitas tersebut merupakan bentuk intervensi komunitas berbasis lingkungan yang diarahkan pada keterlibatan masyarakat dalam kegiatan produktif.
“Budidaya BSF tidak ditempatkan sebagai terapi untuk memperbaiki kualitas tidur. Aktivitas tersebut digunakan sebagai bentuk intervensi komunitas berbasis lingkungan melalui keterlibatan masyarakat dalam kegiatan produktif, pembelajaran bersama serta pengembangan keterampilan,” katanya.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat mendukung penguatan resiliensi psikologis dan sosial masyarakat, khususnya di kawasan yang memiliki karakteristik lingkungan pascatambang.
Program tersebut turut melibatkan Alfiesyahrianta Habibie, Psikolog, dosen Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman, serta 15 mahasiswa yang tergabung dalam Student Research Group FISIP Universitas Mulawarman.
Dari unsur pemerintah daerah, kegiatan dihadiri Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Limbah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara, Tri Joko Kuncoro. Sementara dari Kelurahan Loa Tebu hadir Agus Sopiansyah, S.Sos., M.Si., Kasi Bidang Pembangunan yang mewakili Lurah Loa Tebu.
Kolaborasi tersebut diharapkan membuka ruang bagi pengembangan model pengabdian masyarakat berbasis hasil riset yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah daerah dan masyarakat.
Selain penguatan pemahaman mengenai kualitas tidur dan lingkungan, kegiatan diharapkan menjadi contoh bagaimana hasil penelitian akademik dapat dikembangkan menjadi aktivitas nyata yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah pascatambang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....