Kisah Al Habib Abu Bakar Baagil, Menjaga Waktu dengan Ibadah

  • 22 Sep 2026 16:59 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Malang – Kisah kehidupan ulama dan orang-orang saleh menjadi salah satu sumber keteladanan bagi umat Islam. Di antaranya Al Habib Abu Bakar bin Ahmad Baagil, ulama yang dikenal karena keluasan ilmu, kesalehan, kecintaan kepada orang-orang saleh, serta ketekunannya dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dikutip dari kanal YouTube Al Wafa Tarim, Senin 21 September 2026, Ustaz Habib Abu Bakar bin Ali Baagil mengisahkan manakib Al Habib Abu Bakar bin Ahmad bin Alwi bin Husein bin Abdullah bin Thaha bin Hasan bin Umar Baagil. Ia dilahirkan di Desa Gedun, salah satu wilayah di Hadramaut, sekitar 1890 Masehi dan tumbuh dalam keluarga yang dikenal mencintai kebaikan serta kesalehan.

Pada masa mudanya, Al Habib Abu Bakar berhijrah ke Indonesia. Ia sempat menetap di Tuban, kemudian berpindah ke Surabaya sebelum akhirnya menetap di Kota Malang hingga akhir hayatnya.

Dalam kesehariannya, Al Habib Abu Bakar dikenal zuhud terhadap dunia, tekun beribadah, dan banyak berzikir. Tasbih senantiasa berada di tangannya. Ia juga terbiasa membaca Al-Qur'an, wirid, dan ratib, terutama pada waktu antara Magrib dan Isya.

Kecintaannya kepada orang-orang saleh juga sangat kuat. Ia tidak pernah bosan menghadiri majelis mereka, berziarah, dan mengambil keberkahan dari pertemuan dengan para ulama. Di antara ulama yang dekat dengannya adalah Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih dan putranya, Al Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, Al Habib Saleh bin Muhsin Al Hamid Tanggul, Habib Husein bin Muhammad Al Haddad, serta KH Abdul Hamid Pasuruan.

"Al Habib Abu Bakar juga dikenal menyukai tamu dan menyayangi anak-anak. Ia kerap memberikan buah-buahan maupun permen kepada anak-anak untuk menyenangkan hati mereka. Sikap tersebut membuat anak-anak pun mencintainya," ujar Habib Abu Bakar bin Ali Baagil.

Selain dikenal tekun beribadah, Al Habib Abu Bakar juga memiliki kebiasaan hidup mandiri dan bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan pekerjaan. Ia terbiasa berjalan kaki dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain.

"Dalam menjalani kehidupan, ia dikenal sangat memperhatikan kesempurnaan dalam setiap pekerjaan. Ia terbiasa berjalan kaki dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain," kata Habib Abu Bakar bin Ali Baagil.

Ia juga dikenal memiliki hafalan yang kuat hingga usia lanjut, meskipun penglihatannya mulai berkurang. Dalam menjaga kondisi tubuh, Al Habib Abu Bakar terbiasa makan secukupnya dan tepat waktu. Menjaga kesehatan dipandang sebagai bagian dari menjaga tubuh agar tetap kuat digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Perhatian khusus juga diberikan terhadap waktu antara Magrib dan Isya. Ia tidak terbiasa keluar rumah pada waktu tersebut dan menganjurkan keluarganya melakukan hal yang sama. Waktu tersebut diisi dengan wirid dan zikir, mengikuti kebiasaan para salafus saleh.

Salah satu pesan Al Habib Abu Bakar yang disampaikan dalam kajian tersebut adalah agar seseorang tidak menyakiti keturunan orang-orang saleh. Ia mengibaratkan hubungan antara keturunan dan leluhurnya seperti mata rantai yang saling terhubung. Ketika salah satu ujung rantai digerakkan, bagian lainnya turut bergerak.

Al Habib Abu Bakar bin Ahmad Baagil wafat pada waktu fajar, Kamis, 13 Rabiul Awal 1405 Hijriah atau bertepatan dengan 6 Desember 1984. Ia dimakamkan di Pemakaman Kasin, Kota Malang.

Kisah kehidupan Al Habib Abu Bakar bin Ahmad Baagil menjadi pengingat bahwa keteladanan tidak hanya tercermin dari ilmu, tetapi juga dari ibadah, akhlak, kecintaan kepada orang-orang saleh, kepedulian kepada sesama, serta kesungguhan dalam menjaga waktu dan amal kebaikan.

"Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada umat melalui kisah dan keteladanan para ulama saleh serta menjadikan perjalanan hidup mereka sebagai inspirasi untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya," ucap Habib Abu Bakar bin Ali Baagil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....