Khusyuk dalam Ibadah Perlu Diperjuangkan, Bukan Ditunggu
- 22 Sep 2026 09:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta - Ibadah tidak semata-mata berhenti pada gerakan lahiriah, tetapi menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, kenikmatan dan kekhusyukan dalam beribadah perlu diperjuangkan dengan kesungguhan, kesabaran, dan usaha yang terus-menerus.
Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Selasa 22 September 2026, Ustaz Habib Fahmi Aseggaf menjelaskan, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas ibadah adalah mujahadah, yakni kesungguhan dalam mengerahkan kemampuan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Menurutnya, mujahadah tidak sekadar ikhtiar biasa, tetapi perjuangan yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah.
| Baca juga: Salat Lima Waktu Jadi Standar Keislaman |
Ia mengatakan Allah SWT menjanjikan petunjuk bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berjuang di jalan-Nya. Karena itu, seseorang yang terus berusaha mendapatkan kekhusyukan dan kenikmatan dalam ibadah tidak seharusnya merasa perjuangannya sia-sia.
"Sering kali ada orang yang mengeluhkan belum mampu merasakan khusyuk dalam salat meskipun telah bertahun-tahun berlatih dan berusaha. Namun, kegelisahan semacam itu justru dapat menjadi tanda yang baik. Keinginan untuk meraih kekhusyukan menunjukkan bahwa seseorang memiliki tujuan dalam ibadahnya dan tidak merasa puas hanya dengan menjalankan rutinitas lahiriah," ujar Habib Fahmi Aseggaf.
Menurutnya, kegelisahan karena belum merasakan kekhusyukan berbeda dengan sikap yang sama sekali tidak memedulikan kualitas ibadah. Seseorang yang tetap menjalankan salat, tetapi tidak pernah berusaha memperbaiki kekhusyukannya, dapat kehilangan kesempatan untuk menjadikan ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
"Sebaliknya, seseorang yang merasa resah karena belum khusyuk menunjukkan bahwa ia memandang salat sebagai jalan menuju tujuan yang lebih mulia. Ia menyadari bahwa kekhusyukan adalah salah satu buah dari ibadah yang harus diperjuangkan. Kegelisahan itu menjadi tanda adanya kesadaran spiritual dan semangat untuk terus memperbaiki diri," kata Habib Fahmi Aseggaf.
Habib Fahmi Aseggaf mengingatkan agar seseorang tidak berputus asa ketika belum mampu mencapai kekhusyukan yang diharapkan. Rasa sedih dan khawatir atas kualitas ibadah justru dapat menjadi dorongan untuk terus memperbaiki diri. Dengan mujahadah, kesabaran, dan memohon pertolongan Allah SWT, umat Islam diharapkan terus berusaha meningkatkan kualitas ibadah hingga memperoleh kekhusyukan dan kenikmatan dalam beribadah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....