Kisah Tsabit Al-Bunani, Ulama yang Tetap Salat di dalam Kubur

  • 04 Sep 2026 06:56 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Salah satu tabiat manusia yang sering luput disadari adalah mudah merasa kekurangan ketika berhadapan dengan orang yang memiliki kedudukan atau kekayaan.

Ketika yang menanyakan keadaan kita adalah orang biasa, bahkan mungkin lebih miskin, biasanya kita menjawab dengan ringan, “Alhamdulillah, baik.” Namun, ketika yang bertanya adalah pejabat, orang kaya, atau tokoh terkenal, tidak jarang seseorang justru merasa dirinya paling susah.

Bahkan, ada yang melebih-lebihkan kesulitannya demi mendapatkan simpati. Padahal, seorang mukmin diajarkan untuk menjaga kehormatan diri dan senantiasa bersyukur atas nikmat Allah SWT.

Para ulama saleh telah memberikan teladan tentang bagaimana hati mereka begitu terpaut kepada Allah SWT sehingga tidak lagi disibukkan oleh urusan dunia. Salah satu kisah yang masyhur adalah tentang Al-Imam Tsabit Al-Bunani rahimahullah.

Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Kamis 3 September 2026, Ustaz Habib Fahmi bin Hamid Assegaf menceritakan ketika Tsabit Al-Bunani dimakamkan, terjadi sebuah peristiwa yang tidak disengaja.

Sebuah batu runtuh sehingga membuka celah yang memperlihatkan bagian dalam kuburnya. Orang yang memakamkan beliau kemudian menyaksikan sesuatu yang mengagumkan. Tsabit Al-Bunani terlihat sedang melaksanakan salat di dalam kuburnya.

Peristiwa tersebut membuat orang-orang takjub. Setelah pemakaman selesai, mereka mendatangi putri Tsabit Al-Bunani dan bertanya, “Amalan apa yang dilakukan ayahmu sehingga baru saja dikuburkan sudah terlihat salat di dalam kuburnya?”

Putrinya menjawab, “Ayahku melakukan qiyamul lail selama lima puluh tahun.”

Bukan hanya itu, menjelang waktu sahur setiap malam, Tsabit Al-Bunani selalu berdoa:

“Ya Allah, jika Engkau mengizinkan salah seorang makhluk-Mu untuk tetap melaksanakan salat di dalam kuburnya, maka izinkanlah aku untuk salat di dalam kuburku.”

Padahal, secara syariat, alam barzakh bukan lagi tempat untuk beramal. Barzakh dan akhirat merupakan darul jaza’ (tempat menerima balasan), bukan darul amal (tempat beribadah dan berusaha).

“Namun, lihatlah betapa besar kecintaan beliau kepada Allah. Bahkan setelah kematian, yang beliau harapkan bukan sekadar menikmati balasan amal, tetapi tetap dapat merasakan nikmat bermunajat dan bersambung dengan Rabb-nya,” ujar Habib Fahmi bin Hamid Assegaf.

Menurutnya, kisah tersebut menggambarkan hakikat cinta kepada Allah SWT. Cinta tidak mengenal ruang dan waktu. Ketika seseorang benar-benar merasakan manisnya ibadah, ia tidak ingin terpisah dari Allah SWT dalam keadaan apa pun.

Dengan bekal lima puluh tahun qiyamul lail, Tsabit Al-Bunani seharusnya dapat menikmati berbagai kenikmatan di alam kubur. Kuburnya dapat menjadi raudhah min riyadhil jannah, yaitu taman dari taman-taman surga.

Namun, bagi para pecinta Allah SWT, ada kenikmatan yang lebih tinggi daripada taman-taman surga, yaitu terus merasakan kedekatan dengan Allah SWT.

“Karena itulah beliau memohon agar tetap diberi kesempatan untuk salat meskipun telah berada di alam kubur. Dan Allah SWT mengabulkan permohonan tersebut sebagai kemuliaan baginya,” ucap Habib Fahmi bin Hamid Assegaf.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....