Jalan Meraih Kasih Sayang Allah di Hari Asyura
- 18 Jun 2026 06:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta - Kasih sayang Allah kepada hamba-Nya memiliki hubungan yang erat dengan bagaimana seorang manusia memperlakukan sesamanya.
Semakin banyak seseorang menebarkan kasih sayang, kepedulian, dan kebaikan kepada orang lain, semakin besar pula rahmat dan kasih sayang Allah yang akan diterimanya.
Sebaliknya, ketika seseorang tidak berbagi dan menolong sesama, sesungguhnya ia sedang merugikan dirinya sendiri karena menutup pintu-pintu kebaikan yang Allah sediakan.
Dilansir dari laman you tobe Yayasan AhbabuzZahro, Rabu, 17 Juni 2026.
Ustazah Halimah Alaydrus mengatakan dalam ajaran Islam, sedekah dan kepedulian sosial bukan sekadar membantu orang lain memenuhi kebutuhan hidupnya.
Lebih dari itu, setiap kebaikan yang diberikan kepada sesama akan kembali menjadi manfaat bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat.
"Karena itulah, para ulama sering mengingatkan bahwa orang yang pelit sebenarnya sedang berlaku pelit kepada dirinya sendiri, " ujar ustazah Halimah.
Sebuah kisah yang diriwayatkan dalam beberapa kitab hikmah menceritakan tentang seorang janda yang memiliki banyak anak yatim.
Setelah suaminya meninggal dunia, ia harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Pada Hari Asyura, ketika persediaan makanan di rumah habis, sang ibu mengajak anak-anaknya mencari bantuan kepada orang-orang yang mampu.
Pagi hari mereka mendatangi seorang saudagar kaya yang dikenal sebagai orang baik dan memiliki usaha yang cukup besar.
| Baca juga: Menyadari Barokah dalam Kehidupan |
Namun ketika mereka tiba, sang saudagar baru saja membuka tokonya dan sedang sibuk memulai aktivitas dagang.
Mendengar permintaan bantuan dari sang ibu, ia berkata bahwa tokonya belum memperoleh pemasukan dan meminta mereka datang kembali pada siang hari.
Saat siang tiba, ibu dan anak-anaknya kembali mendatangi saudagar tersebut.
Namun kali ini ia kembali menolak dengan alasan sedang beristirahat dan memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan.
Ia meminta mereka datang lagi pada waktu lain.
"Dengan hati sedih dan tubuh yang mulai lemah karena lapar, sang ibu akhirnya meninggalkan tempat itu bersama anak-anaknya, " kata ustazah.
Ketika sore hari mereka duduk di pinggir jalan sambil berharap ada pertolongan, lewatlah seorang laki-laki yang menunggang kuda.
Sang ibu memberanikan diri meminta bantuan. Mendengar permintaan tersebut, laki-laki itu turun dari kudanya.
Ia bertanya bukankah hari ini hari Asyura?. Sang ibu mengiyakan, ia pun mengajak mereka ke rumahnya.
Ternyata laki-laki tersebut adalah seorang yang berkecukupan.
Dengan kemurahan hati, ia memberikan beras, makanan, serta uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu selama beberapa waktu.
Sang ibu dan anak-anaknya sangat bersyukur atas bantuan yang diterima.
Mereka pulang dengan wajah penuh kebahagiaan dan harapan baru.
Setibanya di rumah, sang ibu bersama anak-anaknya memanjatkan doa yang tulus.
Mereka memohon kepada Allah agar orang yang telah menyelamatkan mereka dari kelaparan diberikan keselamatan dari segala musibah dunia dan akhirat.
Doa itu lahir dari hati yang penuh rasa syukur dan penghormatan kepada orang yang telah berbuat baik pada Hari Asyura.
Malam harinya, saudagar kaya yang sebelumnya menolak permintaan mereka mengalami mimpi yang menggetarkan hati.
Dalam mimpinya ia melihat sebuah istana yang sangat indah di surga.
Ketika ia bertanya kepada malaikat tentang pemilik istana tersebut, ia mendapat jawaban yang membuatnya terkejut.
“Istana ini sebenarnya disiapkan untukmu. Namun karena engkau menolak orang-orang yang meminta pertolongan pada Hari Asyura, maka istana ini tidak lagi menjadi milikmu.”
Saudagar itu terbangun dengan perasaan menyesal.
Keesokan paginya ia segera mencari orang yang telah membantu sang ibu dan anak-anak yatim tersebut.
| Baca juga: Hari Asyura dan Hikmah yang Bisa Kita Ambil |
Setelah bertemu, ia menawarkan sejumlah harta sebagai ganti sedekah yang telah diberikan.
Namun laki-laki itu menolak dan mengungkapkan sesuatu yang lebih mengejutkan.
“Tadi malam aku juga bermimpi melihat istana yang sama.
Malaikat berkata bahwa istana itu disediakan untukku karena aku bersedekah pada Hari Asyura.
Aku pun diberi tahu bahwa jika memeluk Islam, aku akan memperoleh kemuliaan tersebut.
Karena itulah, sebelum subuh tadi aku telah mengucapkan syahadat dan masuk Islam.”
Kisah ini mengajarkan bahwa kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali.
Hari Asyura merupakan salah satu hari yang memiliki keutamaan besar dalam Islam.
Pada hari itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, sedekah, dan amal kebajikan.
Melalui kasih sayang kepada sesama, seorang hamba tidak hanya membantu orang lain.
Tetapi juga sedang membuka jalan menuju rahmat, ampunan, dan karunia Allah yang jauh lebih besar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....