Hari Asyura dan Kisah Nabi Yunus AS yang Diselamatkan dari Perut Ikan
- 18 Jun 2026 12:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharam menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Salah satunya adalah peristiwa ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan Nabi Yunus AS dari dalam perut ikan besar.
Dikutip dari Yayasan Ahbabuz Zahro, Kamis 18 Juni 2026, Ustazah Halimah Alaydrus menjelaskan Nabi Yunus AS diutus untuk berdakwah kepada kaumnya di Kota Nainawa. Selama bertahun-tahun, beliau mengajak mereka beriman kepada Allah SWT, tetapi hampir tidak ada yang menerima dakwahnya.
Karena merasa sedih dan kecewa atas penolakan tersebut, Nabi Yunus meninggalkan kaumnya sebelum datang perintah Allah untuk pergi. Beliau kemudian menuju pelabuhan dan menaiki kapal yang berlayar ke negeri lain.
Nabi Yunus dikenal sebagai sosok terpandang di tengah masyarakatnya. Beliau adalah Yunus bin Matta, seorang yang dihormati dan memiliki kedudukan baik di kalangan kaumnya.
Saat kapal berada di tengah lautan, tiba-tiba datang badai dahsyat. Padahal, saat itu bukan musim badai dan wilayah tersebut tidak dikenal sebagai daerah yang sering dilanda cuaca buruk. Kapal pun terombang-ambing hingga membuat seluruh penumpang ketakutan.
Nahkoda kapal kemudian mengumpulkan para penumpang dan menyampaikan bahwa badai tersebut bukanlah kejadian biasa. "Mungkin ada seseorang yang melarikan diri dari tanggung jawab atau melakukan kesalahan besar sehingga musibah ini terjadi," katanya, menceritakan.
Untuk mengetahui penyebab musibah tersebut, dilakukan undian di antara para penumpang. Nama yang keluar adalah Yunus bin Matta. Namun, para penumpang tidak percaya karena mereka mengenalnya sebagai orang yang baik.
Undian itu diulang hingga tiga kali dan hasilnya tetap sama. Nabi Yunus pun menyadari bahwa peristiwa tersebut merupakan ketentuan Allah SWT.
Ia mengakui telah meninggalkan tugas dakwah yang diamanahkan kepadanya. Akhirnya, Nabi Yunus menceburkan diri ke laut.
Atas kehendak Allah SWT, seekor ikan besar menelan Nabi Yunus. Ia hidup di dalam perut ikan dalam kondisi yang sangat sulit. Tidak ada cahaya, ruang gerak, maupun pertolongan dari siapa pun.
Nabi Yunus berada dalam tiga lapis kegelapan, yakni kegelapan perut ikan, kegelapan dasar laut, dan kegelapan malam.
Seiring berjalannya waktu, tubuhnya semakin lemah. Dalam keadaan tersebut, Nabi Yunus merenungkan segala yang telah terjadi dan menyadari bahwa seluruh urusan berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Kesadaran itu mendorong Nabi Yunus memanjatkan doa yang kemudian dikenal sebagai salah satu doa paling agung dalam Islam. "Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin"Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim".
Doa tersebut terus ia panjatkan dengan penuh keikhlasan, penyesalan, dan kepasrahan kepada Allah SWT. Nabi Yunus mengakui kesalahannya serta memohon ampunan kepada-Nya.
Dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa seandainya Nabi Yunus tidak termasuk orang yang banyak berzikir kepada Allah, niscaya ia akan tetap berada di dalam perut ikan hingga hari kebangkitan.
| Baca juga: Menelusuri Sejarah Lahirnya Kalender Hijriah |
Namun, berkat keimanan, zikir, dan pengakuan atas kesalahannya, Allah SWT mengabulkan doanya dan memberikan pertolongan.
Pada akhirnya, Allah memerintahkan ikan tersebut membawa Nabi Yunus ke daratan dan memuntahkannya. Ia keluar dalam keadaan sangat lemah dan hampir tidak memiliki tenaga.
Meski demikian, Allah SWT tidak meninggalkan hamba-Nya. Setelah menyelamatkan Nabi Yunus, Allah memberikan perlindungan dan rezeki hingga beliau kembali pulih dan dapat melanjutkan tugas dakwahnya.
Kisah Nabi Yunus AS mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki kendali penuh atas kehidupannya. Seluruh urusan berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Ketika menghadapi kesulitan, seorang hamba dianjurkan untuk kembali kepada Allah, mengakui kesalahan, memperbanyak zikir, serta berserah diri kepada-Nya.
Selain itu, kisah ini juga menjadi pelajaran bahwa sebesar apa pun kesalahan seseorang, pintu ampunan Allah SWT selalu terbuka bagi hamba yang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Sebab, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Editor:
Kontributor:
Tag: Hari Asyura, 10 Muharam, Nabi Yunus AS, Kisah Nabi Yunus, Doa Nabi Yunus, Islam, Sejarah Nabi, Muharam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....