Risalah Rasulullah: Ketika Tangisan Anak Meringankan Salat

  • 02 Sep 2026 09:49 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Probolinggo - Tangisan seorang anak kecil ternyata pernah menjadi alasan Rasulullah SAW meringankan salat berjamaah. Bukan karena beliau tidak mencintai ibadah, justru salat merupakan salah satu ibadah yang paling dicintai Rasulullah SAW. Namun, di tengah kecintaan tersebut, beliau tetap mendahulukan perasaan dan keadaan umatnya.

Dalam sebuah hadis yang masyhur, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika menjadi imam salat dan mendengar tangisan seorang anak kecil, beliau mempercepat salatnya. Rasulullah SAW memahami bahwa seorang ibu yang mendengar anaknya menangis tentu akan diliputi kegelisahan dan kekhawatiran.

Nabi Muhammad SAW tidak ingin sang ibu merasa terbebani. Di satu sisi, ibu tersebut sedang menjalankan ibadah. Namun, di sisi lain, hatinya tentu tertuju kepada anak yang sedang menangis. Karena itu, Rasulullah SAW memilih meringankan salat agar sang ibu dapat segera menenangkan buah hatinya.

Dikutip dari kanal YouTube Alwafa Tarim, Selasa 1 September 2026, Al Habib Hasan bin Ismail Al Muhdhor mengatakan sikap tersebut menunjukkan betapa besar kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Bahkan, ketika sedang menjalankan ibadah yang sangat beliau cintai, Rasulullah tetap memperhatikan keadaan orang lain.

Menurut Al Habib Hasan, kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa seorang Muslim tidak seharusnya hanya memikirkan kepentingan dan kenyamanan pribadi. Keimanan seharusnya melahirkan empati, kepedulian, serta keinginan untuk meringankan beban orang lain.

“Pelajaran yang dapat diambil adalah seorang Muslim tidak boleh hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan orang lain. Akhlak seorang mukmin harus mencerminkan kepedulian, empati, dan keinginan untuk meringankan beban sesama,” ujar Al Habib Hasan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan para imam agar tidak memperpanjang salat secara berlebihan. Sebab, di antara jamaah terdapat orang lanjut usia, orang sakit, mereka yang memiliki keterbatasan fisik, hingga orang yang sedang memiliki keperluan mendesak.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesungguhan dalam beribadah, tetapi juga kepekaan terhadap kondisi manusia. Ibadah yang dilakukan dengan penuh semangat tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan keadaan orang lain.

Prinsip tersebut juga dapat ditemukan dalam pelaksanaan ibadah lainnya. Salah satu contohnya adalah ketika seseorang ingin mencium Hajar Aswad di Masjidil Haram. Mencium Hajar Aswad merupakan amalan yang dianjurkan, tetapi tidak boleh dilakukan dengan cara menyakiti, mendorong, atau membahayakan orang lain.

Ketika keadaan sangat padat, seseorang tidak perlu memaksakan diri. Ia dapat memberi isyarat dari kejauhan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semangat menjalankan ibadah harus tetap disertai pemahaman, adab, dan kepedulian terhadap keselamatan sesama.

Al Habib Hasan juga mengingatkan agar nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kesenangan pribadi menjadi penyebab terganggunya orang lain, termasuk dalam lingkungan tempat tinggal.

Memutar musik dengan volume terlalu keras, membuat kebisingan, atau melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan tetangga merupakan contoh sederhana yang perlu diperhatikan. Bisa jadi, di sekitar kita terdapat bayi yang sedang tidur, orang sakit yang membutuhkan ketenangan, atau seseorang yang sedang beristirahat.

“Jika dalam ibadah saja Rasulullah SAW rela meringankan sesuatu yang beliau cintai demi menjaga kenyamanan umatnya, maka dalam urusan duniawi seorang Muslim tentu lebih dituntut untuk memperhatikan keadaan orang-orang di sekitarnya,” ujar Al Habib Hasan.

Kisah tangisan seorang anak yang membuat Rasulullah SAW meringankan salat mengajarkan satu pesan yang sangat sederhana, tetapi mendalam: jangan sampai kebahagiaan dan kenyamanan kita dibangun di atas kegelisahan orang lain.

Sebab, semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, seharusnya semakin lembut pula hatinya kepada sesama. Seperti Rasulullah SAW yang tetap mendengar kegelisahan seorang ibu, bahkan ketika beliau sedang berdiri menghadap Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....