PWNU Kaltim Dukung Pelestarian Sanad dan Memori Kolektif NU

  • 22 Jun 2026 15:24 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Timur bersama PWNU se-Indonesia menyatakan dukungan terhadap inisiatif Komite Dzurriyyah Muassis Nahdlatul Ulama dalam menjaga kesinambungan sanad perjuangan, memperkuat spiritualitas organisasi, serta merawat memori kolektif sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

Dukungan tersebut disampaikan melalui siaran pers yang menyoroti pentingnya menjadikan tradisi penyerahan tongkat dan tasbih sebagai bagian dari prosesi pengukuhan dan pelantikan pengurus NU di seluruh tingkatan organisasi, mulai dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hingga tingkat anak ranting.

Inisiatif ini berangkat dari pelaksanaan Napak Tilas Tongkat dan Tasbih yang digelar pada 4 Januari 2026 atau bertepatan dengan 15 Rajab 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut mengenang perjalanan bersejarah K.H.R. As’ad Syamsul Arifin yang pada tahun 1924 menerima amanah dari gurunya, Syaichona Cholil Bangkalan, untuk menyerahkan tongkat dan tasbih kepada Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.

Peristiwa tersebut diyakini sebagai simbol restu Syaichona Cholil terhadap pendirian Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang kemudian resmi dideklarasikan pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 Hijriah di Surabaya.

Dalam keterangannya, Komite Dzurriyyah Muassis NU menilai tradisi penyerahan tongkat dan tasbih tidak sekadar menjadi simbol historis, melainkan juga sarana memperkuat hubungan spiritual antara para pendiri NU dengan generasi pengurus saat ini.

“Penyerahan tongkat dan tasbih diharapkan tidak hanya menjadi kenangan sejarah, melainkan menjadi simbol estafet amanah yang diteruskan kepada seluruh pengurus NU di semua tingkatan,” demikian kutipan dalam siaran pers tersebut. Senin 22 Juni 2026.

Prosesi yang diusulkan diawali dengan pemutaran dokumentasi Napak Tilas Tongkat dan Tasbih, dilanjutkan pembacaan Surat Thaha ayat 17 hingga 21, sebelum tongkat diserahkan dan tasbih dikalungkan kepada pengurus yang dilantik. Pengalungan tasbih dilakukan setelah diputar sebanyak enam kali, masing-masing tiga kali dengan bacaan “Yaa Jabbaar” dan tiga kali dengan bacaan “Yaa Qahhaar”.

Menurut PWNU Kaltim dan PWNU se-Indonesia, langkah tersebut penting untuk memperkuat nilai spiritualitas dalam menjalankan amanah organisasi, meningkatkan rasa tanggung jawab pengurus, serta menjaga keaslian sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama.

Selain mendukung tradisi tersebut, PWNU Kaltim dan PWNU se-Indonesia juga menyerukan penguatan dimensi spiritual menjelang Muktamar NU ke-XXXV. Seluruh pengurus yang memiliki hak memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dianjurkan melaksanakan salat istikharah sebelum menentukan pilihan.

“Dianjurkan kepada semua pengurus NU yang akan memilih pemimpin NU untuk melakukan salat istikharah dan mendasarkan pilihannya atas petunjuk salat istikharah tersebut,” tulis pernyataan itu.

Tidak hanya itu, warga Nahdliyin juga diajak memperbanyak pembacaan Surat Al-Ikhlas yang dihadiahkan kepada Syaichona Cholil, para guru beliau hingga Rasulullah SAW, serta para Muassis NU sebagai ikhtiar spiritual demi kesuksesan Muktamar NU dan terpilihnya pemimpin yang amanah.

Dalam siaran pers tersebut juga diusulkan penyelenggaraan Haul Syaichona Cholil dan para Muassis NU secara serentak setiap 16 Rajab di seluruh Indonesia. Momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat sejarah lahirnya NU sekaligus sarana memperkuat ikatan spiritual warga Nahdliyin.

Rangkaian kegiatan yang diusulkan mencakup pembacaan Al-Qur’an secara tartil oleh Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) di masjid dan musala sejak pagi hingga sore hari menggunakan pengeras suara, dilanjutkan dengan puncak peringatan Hari Lahir NU pada malam harinya.

PWNU Kaltim menilai berbagai usulan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat karakter keagamaan dan kebangsaan NU di tengah tantangan zaman. Melalui pelestarian sanad perjuangan, penguatan spiritualitas, serta perawatan memori kolektif organisasi, diharapkan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU tetap hidup dan menjadi pedoman bagi generasi penerus.

Siaran pers itu menegaskan harapan agar inisiatif Komite Dzurriyyah Muassis Nahdlatul Ulama dapat menjadi bagian dari aturan organisasi, baik dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga maupun peraturan-peraturan lainnya, sehingga dapat dilaksanakan secara berkelanjutan oleh seluruh jenjang kepengurusan NU di Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....