Mengapa Manusia Harus Menyiapkan Bekal Sebelum Kematian?
- 02 Sep 2026 07:20 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Dalam perspektif Islam, kematian merupakan perpindahan dari kehidupan dunia menuju kehidupan berikutnya. Perjalanan tersebut terus berlanjut hingga manusia sampai pada kehidupan akhirat.
Keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian seharusnya melahirkan persiapan. Sebab, cara seseorang memandang kematian akan sangat menentukan bagaimana ia menjalani kehidupannya di dunia.
Melansir Channel Youtube Adi Hidayat Officil, orang yang meyakini bahwa kehidupan hanya berakhir ketika seseorang meninggal akan cenderung menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Prinsip seperti “hidup hanya sekali, jadi nikmati saja” sebenarnya bukanlah gagasan baru. Al-Qur'an bahkan telah mengabadikan cara berpikir kaum jahiliah yang menganggap kehidupan hanya sebatas kehidupan dunia.
Sebaliknya, orang yang meyakini adanya kehidupan setelah kematian akan menyadari bahwa dunia hanyalah bagian dari perjalanan.
Ketika seseorang berpindah tempat dalam kehidupan dunia saja, ia membutuhkan persiapan. Perjalanan dari satu kota ke kota lain membutuhkan kendaraan, biaya, dokumen, makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Semakin jauh perjalanan, semakin banyak pula persiapan yang diperlukan.
Begitu juga ketika seseorang berpindah dari satu negara ke negara lain. Aturan yang berlaku bisa berbeda. Mata uang berbeda, sistem hukum berbeda, bahkan kebiasaan masyarakatnya pun berbeda.
Jika berpindah tempat di dunia saja membutuhkan persiapan, bagaimana dengan perpindahan dari satu alam ke alam yang berbeda?
Inilah salah satu cara sederhana untuk memahami pentingnya bekal menuju kehidupan setelah kematian.
Ketika seseorang meninggal dunia, ia meninggalkan dunia. Harta, kendaraan, rumah, telepon genggam, dan berbagai fasilitas yang selama ini dimiliki tidak ikut masuk ke alam kubur.
Mobil yang dikumpulkan selama puluhan tahun tidak ikut masuk ke dalam kubur. Rumah yang dibangun dengan susah payah juga ditinggalkan. Bahkan pakaian yang digunakan di dunia pun tidak menjadi pakaian untuk kehidupan berikutnya.
Yang dibawa bukanlah kekayaan dunia, melainkan amal yang telah dikerjakan.
Setelah meninggalkan dunia, manusia memasuki alam kubur. Alam ini berbeda dari kehidupan dunia dan menjadi bagian dari perjalanan menuju akhirat.
Alam kubur juga disebut alam barzakh, yaitu alam pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
Karena itu, Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana menjalani kehidupan dunia, tetapi juga memberikan panduan agar manusia mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Persiapan tersebut dilakukan ketika seseorang masih hidup.
Inilah keindahan konsep Islam: persiapan menuju akhirat tidak harus dilakukan dengan meninggalkan kehidupan dunia. Justru aktivitas dunia dapat menjadi bagian dari bekal akhirat apabila dilakukan dengan benar dan diniatkan karena Allah.
Salat, misalnya, bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan. Salat juga mendidik manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Di dalam salat terdapat tuma'ninah, yaitu ketenangan dan ketenteraman dalam menjalankan gerakan salat. Latihan ketenangan tersebut kemudian diharapkan membentuk jiwa yang tenang.
Al-Qur'an menyebutnya sebagai nafsul muthma'innah, jiwa yang tenang.
Jiwa yang dilatih untuk tenang, tunduk, dan mengingat Allah selama hidup akan memiliki bekal ketika menghadapi kematian.
Dengan demikian, ibadah tidak hanya memiliki manfaat untuk kehidupan sekarang, tetapi juga mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan setelah kematian.
Hal yang sama berlaku pada berbagai aktivitas kehidupan.
Seorang ibu yang merawat anaknya, misalnya, menjalankan aktivitas yang secara duniawi terlihat sebagai kewajiban dan tanggung jawab sehari-hari. Namun, apabila dilakukan karena Allah, dengan menjaga makanan yang halal, mendidik anak dengan Al-Qur'an, dan mendekatkannya kepada Allah, aktivitas tersebut dapat menjadi amal saleh.
Demikian pula bekerja, belajar, menuntut ilmu, mencari nafkah, membangun keluarga, dan berbagai aktivitas lainnya.
Persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang melakukan aktivitas duniawi atau tidak. Yang penting adalah untuk apa aktivitas tersebut dilakukan dan ke mana tujuan akhirnya diarahkan.
Karena itu, seseorang dapat memperoleh dunia sekaligus akhirat.
Al-Qur'an mengajarkan doa:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan dunia. Dunia dapat dinikmati, tetapi jangan sampai dunia menjadi tujuan terakhir.
Menuntut ilmu juga merupakan bagian penting dari kehidupan.
Manusia diperintahkan untuk memperhatikan alam: langit, bumi, laut, gunung, dan berbagai ciptaan Allah. Dari sana lahir berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Manusia dapat mempelajari astronomi untuk memahami langit, biologi untuk memahami kehidupan, geofisika untuk memahami bumi, serta berbagai ilmu lainnya.
Namun, semakin luas ilmu yang dimiliki, seharusnya semakin besar pula kesadaran seseorang terhadap kebesaran Sang Pencipta.
Puncak ilmu bukan sekadar mengetahui bagaimana alam bekerja, tetapi menyadari bahwa di balik keteraturan tersebut terdapat Allah sebagai Pencipta.
Karena itu, kecerdasan tidak hanya diukur dari gelar atau banyaknya pengetahuan. Ilmu seharusnya membawa manusia semakin mengenal Allah.
Keyakinan terhadap akhirat seharusnya diterjemahkan menjadi program hidup.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18 agar orang-orang beriman bertakwa kepada Allah dan memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.
Ayat ini memberikan pelajaran penting: seorang mukmin perlu memiliki perencanaan untuk masa depan.
Jika dalam kehidupan dunia seseorang terbiasa membuat rencana pendidikan, karier, keuangan, keluarga, dan kesehatan, maka kehidupan akhirat juga semestinya memiliki persiapan.
Dengan kata lain, kita perlu membuat “kurikulum akhirat” dan menerapkannya sejak masih berada di dunia.
Caranya sederhana: pahami tujuan akhir, kemudian turunkan tujuan tersebut menjadi amal dan kebiasaan sehari-hari.
Jika tujuan akhirnya adalah mendapatkan rida Allah dan memperoleh kehidupan yang baik di akhirat, maka aktivitas sehari-hari harus diarahkan ke sana.
Secara sederhana, akhirat dapat dipahami sebagai kehidupan yang berada di ujung perjalanan manusia setelah melewati dunia dan alam barzakh.
Dunia adalah tempat sementara. Setelah kematian, manusia memasuki alam barzakh. Kemudian manusia dibangkitkan dan menghadapi kehidupan akhirat.
Pada akhirnya, manusia akan menuju dua tempat: surga atau neraka.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apa yang ingin saya dapatkan selama hidup di dunia?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Ke mana saya akan pergi setelah kehidupan ini berakhir?”
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut seharusnya memengaruhi cara kita bekerja, belajar, menggunakan harta, membangun keluarga, beribadah, dan memperlakukan orang lain.
Seorang manusia yang sehat akal dan jiwanya tentu menginginkan keselamatan. Karena itu, kehidupan akhirat tidak sepatutnya dianggap remeh.
Menganggap neraka sebagai sesuatu yang ringan atau tidak perlu ditakuti menunjukkan adanya masalah dalam cara seseorang memahami kehidupan dan keselamatan dirinya.
Allah memberikan peringatan bukan untuk membuat manusia kehilangan harapan, tetapi agar manusia memiliki kesadaran untuk mempersiapkan diri.
Selama masih hidup, kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka.
Pada akhirnya, kematian akan membuat manusia meninggalkan semua yang selama ini dimilikinya.
Harta akan ditinggalkan. Rumah akan ditinggalkan. Kendaraan akan ditinggalkan. Jabatan dan popularitas juga akan ditinggalkan.
Yang menemani manusia adalah amal yang telah dikerjakannya.
Karena itu, kehidupan dunia seharusnya tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai tempat mempersiapkan perjalanan.
Bekerjalah, tetapi jangan lupa kepada siapa pekerjaan itu dipersembahkan. Belajarlah, tetapi arahkan ilmu untuk mengenal Allah. Bangunlah keluarga, tetapi jadikan keluarga sebagai jalan menuju kebaikan. Gunakan harta, tetapi jangan biarkan harta menguasai hati.
Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah pintu menuju fase kehidupan berikutnya.
Maka, sebelum perjalanan itu tiba, persiapkan bekalnya sejak sekarang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....