Tujuh Golongan Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat

  • 19 Agt 2026 17:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta – Rasulullah sallallahu alaihi wa ali wasallam menyebutkan adanya golongan manusia yang mendapatkan keistimewaan pada hari kiamat. Di tengah dahsyatnya suasana hari akhir ketika manusia diliputi ketakutan, mereka memperoleh tempat istimewa karena berada di bawah naungan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dikutip dari kanal YouTube Al Fachriyah, Rabu, 12 Agustus 2026, Al Habib Jindan bin Novel bin Jindan menjelaskan gambaran tersebut dapat diibaratkan seperti ruang tunggu khusus bagi penumpang kelas eksekutif atau VIP. Namun, keistimewaan yang diberikan Allah pada hari kiamat tentu jauh melampaui segala bentuk fasilitas dan kemewahan yang dikenal manusia di dunia.

Di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pemuda tersebut mengisi masa mudanya dengan ibadah dan ketaatan. Di saat masa muda sering kali identik dengan kesenangan dan berbagai godaan, ia justru memilih menggunakan waktu dan tenaganya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Golongan berikutnya adalah seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid atau rajulun qalbuhu mu'allaqun bil-masajid,” ujar Al Habib Jindan bin Novel bin Jindan.

Makna hati yang terpaut dengan masjid bukan berarti seseorang harus terus-menerus berada di dalam masjid. Ia tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, berdagang, berada di rumah, atau bepergian. Namun, hatinya senantiasa terhubung dengan masjid dan memiliki kerinduan untuk kembali menunaikan salat di dalamnya.

Misalnya, setelah menunaikan salat Subuh di masjid, ia sudah memiliki niat untuk kembali ke masjid saat Zuhur. Setelah salat Zuhur, ia kembali berniat menunaikan Asar di masjid, kemudian Magrib dan Isya. Setelah pulang ke rumah seusai Isya, ia kembali berniat datang ke masjid pada waktu Subuh.

Al Habib Jindan mengatakan, keterikatan dengan masjid juga tidak berhenti pada frekuensi kedatangan. Nilai-nilai yang diperoleh dari masjid seharusnya dibawa dalam kehidupan sehari-hari.

Masjid merupakan tempat sujud. Sujud mengandung makna ketundukan dan kerendahan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena itu, orang yang benar-benar membawa nilai-nilai masjid dalam kehidupannya seharusnya tidak menjadi pribadi yang sombong dan takabur.

Seorang ahli sujud justru belajar merendahkan diri di hadapan Allah. Ia meletakkan bagian tubuh yang paling mulia di tempat yang paling rendah sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.

Kecintaan kepada masjid juga dapat diwujudkan dengan membawa cahaya ibadah dari masjid ke rumah. Rumah tidak dibiarkan seperti kuburan tanpa ibadah, tetapi dihidupkan dengan salat-salat sunah, seperti witir, tahajud, dhuha, dan ibadah lainnya.

Kisah Imam Junaid bin Muhammad al-Baghdadi dapat menjadi teladan. Beliau dikenal sebagai ulama sekaligus pedagang yang memiliki toko di pasar. Dikisahkan, setelah membuka tokonya, beliau menutup bagian depan toko dengan tirai, kemudian menggelar sajadah untuk menunaikan salat sunah sebelum kembali melayani para pembeli.

Kisah tersebut menggambarkan bahwa aktivitas duniawi tidak harus menghalangi seseorang menjaga hubungan dengan Allah. Kesibukan berdagang tetap dijalankan, tetapi ibadah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.

Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa ali wasallam yang menggambarkan salat sebagai penyejuk dan kesenangan hati beliau.

“Golongan lain yang mendapatkan keistimewaan pada hari kiamat adalah orang yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga air matanya mengalir,” kata Al Habib Jindan bin Novel bin Jindan.

Air mata tersebut bukan untuk mencari pujian manusia. Ia menangis karena takut kepada Allah, merasa malu atas dosa-dosanya, merindukan Allah, mengingat kesalahan yang pernah dilakukan, atau membayangkan dahsyatnya hari kiamat.

Tangisan yang lahir dalam kesendirian menjadi gambaran kedalaman hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Tidak ada manusia yang melihat dan tidak ada pujian yang diharapkan. Yang ada hanya seorang hamba yang menyadari kelemahan dirinya dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena itu, kesempatan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat hendaknya menjadi motivasi bagi setiap Muslim untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sejak di dunia. Masa muda diisi dengan ketaatan, hati dipautkan kepada masjid, rumah dihidupkan dengan ibadah, dan hati dibiasakan untuk takut serta berharap hanya kepada Allah.

Sebab, ketika seluruh manusia berada dalam ketakutan pada hari kiamat, naungan Allah merupakan tempat perlindungan yang tidak ternilai. Keistimewaan itu bukan diperoleh karena kekayaan, jabatan, atau kedudukan duniawi, melainkan karena keimanan dan amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....