Akhlak Menjadi Fondasi Pembangunan Bangsa yang Bermartabat
- 19 Agt 2026 07:27 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kemerdekaan Republik Indonesia yang memasuki usia 81 tahun menjadi momentum untuk kembali merenungkan arah pembangunan bangsa. Akademisi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ustaz Mustamin Fattah, mengingatkan kemajuan bangsa tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, kecanggihan teknologi, kekuatan militer, atau pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, pembangunan bangsa membutuhkan fondasi moral yang kuat agar berbagai kemajuan dapat digunakan secara bertanggung jawab. “Kebaikan sejati itu tidak bisa dibaca hanya dengan melakukan atau sesekali melakukan kebaikan, tetapi kebaikan sejati itu adalah ketika kebaikan itu menjadi karakter, menjadi akhlak dalam kehidupan kita,” ujarnya kepada RRI pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, akhlak tidak boleh dipandang sebagai pelengkap dalam pembangunan. Jalan raya yang luas, teknologi yang canggih, dan perekonomian yang kuat tidak otomatis membuat masyarakat menjadi tertib, bijaksana, adil, dan amanah.
“Bangsa itu tentu tidak hanya dibangun dengan materi,” kata Mustamin. Menurutnya, pembangunan juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas, kejujuran, tanggung jawab, keadilan, serta kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Dalam perspektif Islam, perubahan bangsa harus dimulai dari perubahan manusia, terutama nilai, hati, karakter, dan akhlaknya. Hal tersebut sejalan dengan firman Allah Swt., dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Mustamin menegaskan bahwa ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan penyimpangan, kekuasaan tanpa akhlak dapat melahirkan kesewenang-wenangan, sedangkan harta tanpa akhlak dapat menumbuhkan keserakahan. Karena itu, ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, pertahanan, dan seluruh bidang kehidupan membutuhkan landasan akhlak.
Ia juga mengingatkan pentingnya kejujuran dalam kehidupan ekonomi. Allah Swt., memberikan peringatan dalam Surah Al-Mutaffifin ayat 1–3 tentang orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan, termasuk mereka yang menuntut haknya secara penuh tetapi mengurangi hak orang lain ketika memberikan sesuatu.
Dalam kehidupan bernegara, prinsip amanah dan keadilan juga menjadi bagian penting dari akhlak. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
Pembangunan peradaban, lanjut Mustamin, pada akhirnya bukan sekadar menghadirkan gedung-gedung tinggi, jalan yang lebar, atau teknologi mutakhir. Peradaban sejati adalah ketika manusia mampu menggunakan seluruh kemajuan tersebut untuk menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan bagi dirinya serta orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....