Hadis tentang Imam Meringankan Salat, Al Habib Hasan: Utamakan Kenyamanan Makmum
- 12 Agt 2026 07:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Probolinggo - Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pentingnya kasih sayang dan mempertimbangkan kondisi orang lain, termasuk ketika seseorang menjadi imam dalam salat berjemaah.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Al Habib Hasan bin Ismail Al Muhdhor saat menjelaskan hadis tentang anjuran bagi imam untuk meringankan salat. Materi tersebut dikutip dari kanal YouTube Al Wafa Tarim, Selasa 11 Agustus 2026.
Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tersebut berbunyi:
“Jika salah seorang dari kalian menjadi imam bagi manusia, maka ringankanlah salatnya. Karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan lanjut usia. Jika salah seorang dari kalian salat sendirian, maka perpanjanglah salatnya sekehendaknya.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (muttafaqun ‘alaih’).
Menurut Al Habib Hasan, hadis tersebut terdapat dalam hadis ke-40 kitab Mukhtasar Riyadus Shalihin Gutsul Fawaid, yang disampaikan oleh guru mulia Sayyid Habib Umar bin Hafidz.
Al Habib Hasan menjelaskan, inti hadis tersebut adalah tentang ar-rahmah atau kasih sayang. Menurutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
"Rahmat untuk manusia dengan segala agama dan sukunya, Muslim dan non-Muslim, Arab dan Ajam," ujar Al Habib Hasan.
Ia juga menjelaskan, ajaran Islam mengajarkan kasih sayang terhadap seluruh makhluk, termasuk binatang.
Karena itu, menurutnya, Islam melarang tindakan yang menyakiti atau menzalimi binatang. Ia mencontohkan tuntunan ketika menyembelih hewan untuk dikonsumsi, yakni menggunakan pisau yang tajam agar prosesnya berlangsung cepat dan tidak menyakiti hewan.
"Jika menyembelih untuk dimakan, maka gunakan pisau yang tajam agar cepat dan tidak menyakitinya. Jangan menyembelih di depan temannya karena hewan pun punya perasaan," katanya.
Ia juga mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Man la yarhaminnas la yarhamhullah.”
Artinya, “Siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayangi Allah.”
Menurut Al Habib Hasan, kasih sayang tersebut tidak terbatas kepada sesama Muslim. Ia mencontohkan bahwa berbuat baik kepada makhluk hidup, termasuk memberi makan hewan, juga merupakan perbuatan yang bernilai kebaikan.
Al Habib Hasan kemudian menjelaskan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai adab menjadi imam.
"Jika kamu jadi imam, maka salatlah yang ringan. Kenapa? Karena di antara makmum ada yang lemah, ada yang sakit, ada yang tua," ucapnya.
Menurut dia, seorang imam tidak seharusnya menggunakan kondisi dirinya sendiri sebagai satu-satunya ukuran ketika memimpin salat berjemaah. Imam perlu mempertimbangkan kondisi para makmum.
Karena itu, bacaan dalam salat hendaknya tidak dibuat terlalu panjang. Ia mencontohkan bacaan rukuk dan sujud yang dilakukan secara wajar sesuai tuntunan.
Al Habib Hasan juga mengingatkan kisah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur sahabat Muadz bin Jabal karena membaca surah Al-Baqarah ketika menjadi imam.
Rasulullah kemudian bertanya: “Afatânun anta ya Muadz?”
Artinya, “Apakah engkau hendak membuat fitnah, wahai Muadz?”
Menurut Al Habib Hasan, kisah tersebut menunjukkan pentingnya mempertimbangkan kondisi makmum agar mereka tidak merasa terbebani dalam menjalankan ibadah.
Berbeda ketika seseorang melaksanakan salat seorang diri. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah memberikan keleluasaan untuk memperpanjang salat sesuai keinginan dan kemampuan.
"Berbeda jika kamu salat sendirian, maka perpanjanglah sekehendakmu. Saat munajat sendiri, perpanjang rukuk, perpanjang sujud," kata Al Habib Hasan.
Ia menjelaskan, sujud merupakan salah satu momen seorang hamba berada sangat dekat dengan Allah. Karena itu, orang yang salat sendirian dapat memperbanyak doa dan memperpanjang ibadahnya sesuai kemampuan.
Menurutnya, ketentuan tersebut tidak seharusnya dibalik, yakni salat sendirian dilakukan secara terburu-buru, sementara ketika menjadi imam justru membaca bacaan yang panjang.
Al Habib Hasan menekankan, Islam mengajarkan kemudahan dan kasih sayang dalam menjalankan ibadah.
Menurutnya, tujuan utama pelayanan dan dakwah di masjid adalah membuat masyarakat merasa nyaman sehingga semakin dekat dengan Allah, bukan sebaliknya.
"Tugas kita mendekatkan orang kepada Allah, bukan menjauhkan. Pintu tobat selalu terbuka selama nyawa masih di badan. Sebesar apa pun dosa, jika bertobat, maka Allah ampuni," ujarnya.
Ia mengajak umat Islam untuk menjadikan kasih sayang sebagai bagian dari kehidupan, termasuk dalam menjalankan ibadah dan berinteraksi dengan sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....