Fenomena Budaya Konsumtif Teknologi bagi Remaja
- 19 Jul 2026 13:50 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perkembangan era digital yang kian melesat cepat kini diibaratkan seperti buah simalakama bagi generasi muda, khususnya para remaja. Di satu sisi memberikan kemudahan luar biasa, namun di sisi lain berpotensi menjadi jebakan yang memperbudak mental penggunanya.
Remaja masa kini menjadi kelompok yang paling rentan terhadap gempuran produk digital, terutama maraknya fenomena game online. Ketergantungan yang tinggi terhadap gawai memicu lahirnya gaya hidup konsumtif teknologi yang kurang produktif.
Dampak dari fenomena ini menjadi perhatian serius dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Remaja dituntut memiliki kecakapan menyaring pengaruh buruk dari adiksi gawai agar masa depan mereka tidak terdistorsi.
Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Kaltim, Dwi Hariyanto, mengingatkan bahwa relasi antara kehidupan remaja dan teknologi digital saat ini tidak pernah terlepas dari industri permainan virtual. Hal ini menuntut adanya kesadaran tinggi dari masing-masing individu remaja.
Menurutnya, adiksi atau kecanduan terhadap produk digital merupakan ancaman nyata bagi pembentukan karakter remaja. Penggunaan teknologi yang tidak terkontrol secara sadar berisiko mematikan daya kreativitas alami mereka.
"Keberadaan era digital di saat ini memang seperti buah simalakama ya, di satu sisi itu menguntungkan tapi di sisi lain juga akan menjebak teman-teman atau remaja yang ada saat ini kalau tidak bisa menggunakan secara hati-hati. Jadi, karena kalau kita bicara remaja dengan digital pasti tidak jauh-jauh dari persoalan game," ujarnya pada program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Minggu, 19 Juli 2026.
Lebih lanjut, ia mendorong para remaja untuk mengubah paradigma mereka dari sekadar pengguna pasif menjadi pencipta yang inovatif. Literasi digital sejati adalah kemampuan individu untuk memanfaatkan teknologi demi menunjang kualitas hidup.
Remaja diharapkan tidak menghabiskan waktu produktifnya hanya sebagai konsumen yang dikendalikan oleh algoritma korporasi teknologi. Penguasaan diri menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam lingkaran kecanduan digital yang merugikan.
"Sebagai remaja sebaiknya memang kita harus bisa memilah dan bisa memanfaatkan teknologi ini sebaik mungkin. Jadi kita tidak boleh juga terlalu kecanduan dengan produk yang dihasilkan gitu. Kalau bisa ya kita menghasilkan produk karena memang literasi kan seperti itu, kecakapan individu untuk kehidupannya," katanya.
Pihak Balai Bahasa Kaltim berharap melalui edukasi literasi digital yang masif, remaja di Kalimantan Timur dapat bangkit menjadi generasi yang bijaksana dan teknologi harus diposisikan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kapabilitas diri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....