Kemudahan PayLater Tingkatkan Risiko Belanja tanpa Perhitungan

  • 07 Agt 2026 10:47 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kemudahan layanan pembayaran digital seperti PayLater dan sistem kredit online dinilai dapat memperbesar risiko perilaku belanja impulsif apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengatur keuangan. Psikolog mengingatkan, akses yang semakin mudah untuk mendapatkan barang dapat membuat seseorang mengambil keputusan belanja tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial.

Psikolog Anang Arief Abdillah menjelaskan, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat dalam melakukan transaksi. Jika sebelumnya seseorang harus datang langsung ke toko atau pusat perbelanjaan, kini proses membeli barang dapat dilakukan hanya melalui telepon genggam.

“Bedanya adalah zaman dulu mungkin kalau misalnya mau buying, akhirnya kita harus pergi dulu keluar, jalan dulu agak jauhan ke toko atau misalnya ke mal dan lain sebagainya. Sekarang tinggal di kasur pun lagi capek, sudah tinggal scroll-scroll saja. Apa yang diinginkan sudah dapat, tinggal tunggu,” ujarnya dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.

Menurutnya, kemudahan tersebut dapat menjadi kebiasaan yang tidak sehat apabila seseorang tidak memiliki kontrol diri dalam menggunakan platform belanja digital. Ketika seseorang sedang mengalami kondisi emosional tertentu seperti sedih atau tertekan, dorongan untuk berbelanja dapat semakin sulit dikendalikan.

Anggota Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia (IPK HIMPSI) Kaltim ini mengatakan, layanan seperti PayLater maupun sistem kredit sebenarnya memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh barang. Namun, kemudahan tersebut juga dapat memunculkan persoalan baru apabila digunakan tanpa perencanaan keuangan yang matang.

“Sebenarnya sistemnya seperti PayLater atau pengkreditan itu memudahkan mereka mendapatkan barangnya. Tapi apakah dari situ akan menimbulkan rasa senang? Jawabannya iya, tapi sementara mereka akan memiliki sebuah masalah baru adalah bagaimana cara melunasinya,” katanya.

Ia menyebut kelompok yang paling rentan terdampak adalah remaja akhir hingga dewasa awal yang dekat dengan teknologi digital, namun masih dalam proses belajar mengatur keuangan dan mengendalikan perilaku konsumtif.

“Yang lebih berdampak itu siapa? Yaitu teman-teman remaja akhir sama dewasa awal yang memang sangat-sangat dekat sama teknologi,” ucapnya.

Dosen Psikologi Unmul ini juga menambahkan, penggunaan layanan digital tetap dapat dilakukan secara bijak apabila masyarakat mampu membuat batasan pengeluaran dan memahami bahwa belanja bukan solusi untuk menyelesaikan masalah emosional. Menurutnya, kemampuan mengatur emosi dan keuangan menjadi kunci agar kemudahan teknologi tidak berubah menjadi beban finansial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....