Tantangan Menjaga Orisinalitas Sastra di tengah Gempuran Teknologi AI
- 19 Jul 2026 13:51 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kehadiran teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) di era modern telah merambah ke berbagai sektor kehidupan manusia, termasuk ke dalam ranah kreatif penulisan sastra. Kemampuan generator teks AI dalam menyusun kalimat-kalimat memicu perdebatan mengenai masa depan orisinalitas karya seni.
Meskipun AI mampu menghasilkan teks naratif dengan kecepatan luar biasa berdasarkan instruksi (prompt) tertentu, teknologi ini dinilai memiliki batasan emosional yang fundamental. Hasil karya ciptaan robot sering kali terasa gersang dan kehilangan sentuhan kemanusiaan.
Menyikapi gelombang penetrasi teknologi mutakhir ini, praktisi literasi menekankan bahwa AI tidak boleh menggantikan sepenuhnya kedudukan intuisi manusia. Pengalaman empiris seorang penulis tetap memegang peranan tertinggi dalam melahirkan karya seni yang bernyawa.
Pada program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda, Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Kaltim, Dwi Hariyanto, menguraikan pandangannya mengenai pemanfaatan AI dalam dunia kreatif penulisan sastra. Menurutnya, kualitas keluaran teks AI sangat bergantung pada kematangan instruksi yang diberikan oleh manusia.
Meskipun AI dapat digunakan sebagai alat bantu stimulan, hasil murni dari kecerdasan buatan dinilai tidak memiliki kedalaman emosi. Hal ini disebabkan karena mesin tidak pernah merasakan langsung pasang surut pengalaman hidup manusia secara riil.
"Kecerdasan buatan itu ya bisa dimanfaatkan, tapi kita tidak boleh tergantung sepenuhnya. Kalau ibaratnya kita menulis kata sastra, kayak tidak ada rohnya di hasil produknya itu. Karena kita tidak mengalami peristiwa, kita tidak menangkap peristiwanya secara langsung, kita tidak membuat analisisnya. Jadi semacam robot yang tidak bernyawa," ujarnya dikutip Minggu, 19 Juli 2026.
Dwi menambahkan bahwa esensi dari keindahan sebuah karya sastra bersumber dari kejujuran emosional dan perenungan batin penulisnya. Deskripsi yang kuat hanya lahir ketika seorang sastrawan melibatkan seluruh kepekaan rasa dan hatinya dalam merespons fenomena sosial di sekitarnya.
"Berdasarkan pengalaman kita, baik pengalaman kita membaca, kemudian mengalami secara langsung, kita menulis itu dengan hati. Jadi perasaan emosinya itu semuanya bisa terungkapkan secara secara nyata, dideskripsikan secara nyata. Mungkin berbeda dengan AI," katanya.
Melalui pemahaman ini, Balai Bahasa Kaltim mengingatkan para remaja dan pegiat sastra di Kalimantan Timur untuk bijak memposisikan teknologi AI. AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra bertukar ide, namun mahkota kreativitas dan kedalaman rasa sebuah karya sastra tetap berada di bawah kendali penuh jemari dan hati nurani manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....