Konsep dan Sejarah Filosofis Literasi
- 19 Jul 2026 13:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Makna literasi di era modern kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai kemampuan dasar membaca dan menulis alfabetis semata. Sejatinya, konsep literasi memiliki akar filosofis yang sangat erat dengan kodrat manusia sebagai makhluk hidup yang dikaruniai akal budi.
Sejarah literasi dinilai tumbuh beriringan sejak awal mula manusia menjejakkan kakinya di bumi dan mulai membangun peradaban secara komunal. Penelaah Teknis Kebijakan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Aminudin Rifai, memaparkan secara mendalam landasan filosofis pemikiran tersebut. Ia mengaitkannya dengan definisi klasik mengenai esensi penciptaan umat manusia di muka bumi.
Secara etimologis, istilah literasi memang diserap dari bahasa Latin literatus yang awalnya menitikberatkan pada kemampuan melek huruf. Namun, esensi dasarnya jauh melampaui kemampuan teknis membaca simbol tertulis.
| Baca juga: Menjaga Kemurnian Niat dalam Berkurban |
Proses berpikir manusia yang melahirkan bahasa dan komunikasi interaktif sejak peradaban kuno merupakan bentuk nyata dari aktivitas literasi primordial. Semakin kompleks struktur masyarakat yang terbentuk, semakin berkembang dan bervariasi pula kompleksitas bahasa serta akal pikiran manusia.
"Manusia itu ada yang merumuskan manusia, itu adalah al-hayawanun natiq. Jadi manusia itu hewan, tapi hewan yang berakal gitu ya. Karena dia punya akal, dia memiliki proses yang berbeda dan kemajuan yang berbeda dengan binatang atau makhluk Allah yang lain. Itulah yang kemudian muncul peradaban muncul kebudayaan," ujarnya pada program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Minggu, 19 Juli 2026.
Ia juga menambahkan, sebelum tradisi tulisan berbasis aksara ditemukan, manusia sudah memulai perjalanan literasinya melalui aktivitas berpikir secara mendalam. Tradisi berpikir inilah yang membedakan manusia secara mutlak dari makhluk hidup lainnya.
Tingkatan literasi tertinggi dicapai ketika seseorang mampu mendengarkan informasi secara saksama, mengolahnya dengan jernih, dan menentukan pilihan hidup yang bijak. Kemampuan menentukan sikap berbasis kebenaran merupakan indikator manusia yang benar-benar literat.
"Di antara ciri-ciri orang yang memiliki akal itu apa? Alladzina yastami'unal qaula fayattabi'una ahsanah. Dia mendengarkan perkataan-perkataan. Kemudian yastami itu mendengar, maksudnya menyimak. Mendengar dengan menyerap gitu ya, bukan sekedar sami'a. Kalau itu mendengar aja sepintas. Kemudian fayattabi'una ahsanah, dia nanti akan mengikuti mana yang lebih baik," katanya.
Melalui landasan filosofis ini, Balai Bahasa Kaltim mengajak para remaja di Kalimantan Timur untuk bangga menggunakan akalnya secara maksimal. Menjadi manusia literat berarti mengembalikan kodrat sejati manusia sebagai makhluk berakal yang gemar berpikir demi kemajuan peradaban.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....