Memaknai Pahlawan Melalui Imajinasi Kreatif Penulis Cilik
- 23 Feb 2026 12:26 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dalam kacamata psikologi perkembangan, cara seorang anak mengidentifikasi sosok pahlawan merupakan refleksi dari lingkungan dan nilai-nilai yang mereka serap. Fenomena ini tergambar jelas dalam peluncuran buku "Pahlawan di Sekitar Kita" karya 20 anak hebat di Samarinda. Bagi anak-anak ini, pahlawan tidak lagi terbatas pada sosok berseragam militer atau pejuang masa lalu, melainkan figur-figur fungsional yang mereka temui dalam keseharian, seperti tukang bangunan dan petugas pemadam kebakaran.
Raziq Habibie Alamsyah, siswa kelas 6 SDIT Umar bin Khattab dalam program Dunia Anak Pro 4 RRI Samarinda, Minggu, 22 Februari 2026 kemarin, memberikan perspektif yang mengejutkan orang dewasa. Baginya, seorang tukang bangunan adalah pahlawan karena dedikasi mereka bekerja keras demi keluarga. Kutipan Raziq yang mendalam menggambarkan kedewasaan berpikirnya: "Pahlawan adalah orang yang membantu dari segi kemanusiaan, kehidupan, lingkungan, dan sosial." Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak masa kini memiliki literasi kemanusiaan yang sangat tinggi.
Sementara itu, Ahsan Ahnaf memilih pemadam kebakaran sebagai sosok pahlawan dalam komik buatannya. Pengalaman pribadi saat mengikuti kegiatan simulasi pemadam kebakaran sewaktu TK membekas kuat dalam ingatannya. "Pahlawan bagiku adalah yang membela orang lain dan menyelamatkan orang," ujar Ahsan. Hal ini membuktikan bahwa pengalaman sensorik dan keterlibatan langsung (experiential learning) sangat efektif dalam membentuk struktur nilai pada anak.
Bunda Fitri, sebagai pendamping dari Kampung Dongeng Etam, menekankan bahwa aktivitas menulis dan menggambar adalah sarana katarsis bagi imajinasi anak yang meluap-luap. Menulis bukan sekadar menyusun kata, melainkan proses "menumpahkan imajinasi agar tidak menjadi beban pikiran dan bisa membuat imajinasi baru," seperti yang dikatakan Raziq. Proses ini sangat krusial untuk menjaga kesehatan mental dan produktivitas kreatif sejak dini.
| Baca juga: KBMK POLNES Gelar Amazing Grace Concert 2026 |
Pentingnya peran mentor juga terlihat dalam proyek buku ini. Dengan arahan mentor, anak-anak diajarkan untuk menyusun konsep mandiri tanpa unsur kerja sama tim, sehingga ciri khas individu masing-masing penulis tetap terjaga. Hasilnya adalah karya orisinal yang murni lahir dari keresahan dan kekaguman pribadi sang anak terhadap realitas di sekitarnya.
Apresiasi terhadap karya anak harus dilakukan secara konkret, salah satunya dengan membaca dan memiliki buku mereka. Seperti yang ditekankan dalam siaran tersebut, buku adalah "sejarah hidup". Jika imajinasi tidak dituangkan dalam tulisan, ia akan menguap dan sia-sia. Dengan menulis, anak-anak ini sedang membangun monumen sejarah mereka sendiri yang akan dikenang hingga mereka dewasa nanti.
Sebagai penutup, tantangan atau challenge yang diberikan kepada anak-anak untuk mengeksplorasi Teras Samarinda dan Islamic Center menjadi langkah lanjut untuk memperkaya asupan pengalaman mereka. Dengan semakin banyak mereka melihat dunia luar secara mandiri, maka semakin kaya pula definisi pahlawan dan nilai kehidupan yang akan mereka tuangkan dalam karya-karya selanjutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....