Muhammad Al Habsyi: Tiga Cara Menguatkan Hati saat Disakiti Orang Lain
- 14 Jul 2026 13:35 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Dalam kehidupan, setiap orang hampir pasti pernah mengalami perlakuan yang menyakitkan, baik melalui perbuatan, ucapan, maupun gunjingan di belakang. Meski tidak mudah, Islam mengajarkan cara menyikapi keadaan tersebut dengan kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan kepada Allah SWT.
Dikutip dari kanal YouTube Ustaz Muhammad Al Habsyi, Selasa 14 Juli 2026, ada tiga hal yang dapat menjadi penguat hati ketika seseorang menghadapi perlakuan yang menyakitkan dari orang lain.
1. Yakin Semua Terjadi atas Izin Allah
Muhammad Al Habsyi menjelaskan, setiap peristiwa yang menimpa manusia terjadi atas izin Allah SWT. Karena itu, seseorang yang menjadi korban kezaliman tidak perlu larut dalam kesedihan ataupun dendam.
Menurutnya, menjadi pihak yang terzalimi justru lebih baik daripada menjadi pelaku kezaliman. Dalam ajaran Islam, orang yang berbuat zalim mendapat ancaman dari Allah SWT, sedangkan doa orang yang dizalimi memiliki kedudukan istimewa.
Ia juga mengingatkan, para nabi dan orang-orang saleh pernah mengalami berbagai bentuk kezaliman. Ujian tersebut menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam meraih kemuliaan di sisi Allah SWT.
2. Ujian Menjadi Jalan Mengangkat Derajat
Muhammad Al Habsyi mengatakan, setiap ujian yang diberikan Allah SWT mengandung hikmah. Terkadang, Allah menghendaki derajat seorang hamba menjadi lebih tinggi melalui kesabaran dalam menghadapi cobaan.
"Kadang Allah SWT ingin memberikan sesuatu yang istimewa kepada hamba-Nya. Namun, jika amalnya belum cukup, Allah memberikan ujian melalui perantara orang lain," ujarnya.
Menurutnya, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Karena itu, seseorang dianjurkan tetap berdoa agar senantiasa diberikan kebaikan dan dijauhkan dari berbagai ujian yang berat.
Ia mengutip doa yang sering dibaca Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi:
"Allahumma ja'alna min 'abidil ihsan la 'abidil imtihan."
Artinya, "Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba yang memperoleh kebaikan, bukan hamba yang diuji."
3. Memaafkan Tidak Berarti Melupakan
Muhammad Al Habsyi menegaskan, memaafkan dan melupakan merupakan dua hal yang berbeda. Memaafkan berarti menghilangkan keinginan untuk membalas atau mendoakan keburukan kepada orang yang telah menyakiti.
Sementara itu, mengingat pengalaman yang pernah dialami bukanlah sesuatu yang keliru. Hal tersebut dapat menjadi pelajaran agar seseorang lebih berhati-hati dalam bersikap dan berinteraksi dengan orang lain.
"Yang penting di dalam hati kita sudah tidak ada lagi keinginan buruk kepadanya. Hati sudah bersih," ujar Muhammad Al Habsyi.
Melalui ketiga sikap tersebut, umat Islam diajak untuk menghadapi setiap ujian dengan penuh kesabaran, memperbanyak doa, serta menjaga kebersihan hati. Dengan demikian, rasa sakit akibat perlakuan orang lain dapat menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....