Tuan Guru KH Mahfud Amin, Ulama Besar Pendiri Ponpes Ibnul Amin

  • 08 Jun 2026 17:26 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Nama Tuan Guru KH Mahfud Amin bin KH Muhammad Romli bin Tuan Guru Haji Muhammad Amin dikenal sebagai salah satu ulama besar Kalimantan Selatan yang memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan Islam dan dakwah di daerahnya.

Dilansir dari kanal YouTube Ibnul Amin TV, Senin 8 Juni 2026, KH Muhammad Rabbani membacakan manakib atau riwayat hidup Tuan Guru KH Mahfud Amin yang lahir di Desa Pamangkih, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, pada malam Selasa, 23 Rajab 1332 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1914 Masehi.

Tuan Guru Mahfud Amin merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara, putra pasangan KH Muhammad Romli dan Hajjah Shabariah. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak usia dini, beliau mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya yang dikenal sebagai ulama berilmu dan berpengaruh. Ketika berusia lima tahun, Tuan Guru Mahfud Amin telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an tahap pertama di bawah bimbingan sang ayah. Semangat menuntut ilmu terus tumbuh hingga beliau menyelesaikan pendidikan formal dengan penuh kesungguhan.

Pada usia 24 tahun, setelah menikah dengan Saudah, putri KH Muhammad Arsyad dari Desa Kalibaru, beliau berangkat ke Tanah Suci Makkah pada 1938. Selain menunaikan ibadah haji, keberangkatan tersebut juga dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama besar dunia Islam.

Selama berada di Makkah, beliau berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Syekh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani, Syekh Abdul Qadir bin Abdul Muthalib Al-Mandili, Syekh Abu Bakar bin Sulaiman Jakarta, serta Syekh Muhammad Ahyad bin Idris. Dari para gurunya, beliau tidak hanya memperoleh ilmu keislaman, tetapi juga teladan akhlak dan keteladanan dalam berdakwah.

Setelah menuntut ilmu selama tiga tahun, Tuan Guru Mahfud Amin kembali ke tanah air pada 8 Oktober 1941. Sejak saat itu, beliau aktif mengajar agama dan membina masyarakat. Puncak pengabdiannya terwujud pada 1958 dengan mendirikan Pondok Pesantren Ibnul Amin di Desa Pamangkih. Nama "Ibnul Amin" yang berarti jujur dan terpercaya menjadi doa sekaligus harapan agar para santri yang menimba ilmu di pesantren tersebut tumbuh menjadi generasi berakhlak mulia, amanah, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, serta masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....